walopun telat beberapa hari, gw ngucapin:
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH!!! Yeah...
Fiuh.. beneran sibuk banget dah gw Desember ini sama acara kawinan, ada acara ‘kawinan’ mahasiswa di kampus mpe kawinannya sepupu gw; The Arifin’s & Co. back in action! Yeah..
Pola makan en tidur gw jadi nambah kacau. Akibatnya untuk pertama kalinya kemaren itu GW KETIDURAN WAKTU NYETIR! Kejadiannya sewaktu abis pulang acara ‘kawinan’ kampus di pinggiran kota Padang, pas nyampe rumah jam setengah 9 malem dengan kondisi yg down banget karna ga tidur slama 3 hari di acara ‘kawinan’ kampus tersebut, gw malah disuruh kudu ke tempat sepupu gw di Indarung saat itu juga.
Pas berangkat kesadaran gw udah melayang, ga terlalu konsen dg kondisi jalan. Bahkan gw ngelewatin belokan rumah sepupu gw yg bikin gw muter balik lagi. Di tempat sepupu gw pun buat bahas kawinannya gw juga lebih banyak “ho’oh-ho’oh” doang.
Pulangnya pas tengah malam en disitu gw bener-bener ga nyadar apa-apa lagi, ampe di kawasan Sawahan gw ‘dibangunin’ oleh bunyi knalpot motor yg nyalip mobil gw si Snowflake, pas kebangun gitu mobil gw udah ada di tengah pembatas lajur kiri-kanan. Buat kaget pun gw kaga sempet karna saking lelahnya. Untungnya tengah malam itu jalanan sepi en akhirnya bisa selamat nyampe rumah. Trima kasih Tuhan..
Selain pola makan en tidur, pola bebersih gw juga kacau, mandi makin jarang, gosok gigi lupa, cuci muka kagak. Akibatnya jerawat di muka nambah banyak en GUSI DI LOBANG GIGI GW BENGKAK LAGI. Ugh, perfect. Efek positifnya, gw jadi bisa menghemat sabun mandi, pasta gigi, en pembersih wajah gw.
Ngomong-ngomong tentang toiletries gitu, gw inget pengetahuan baru yg gw dapat beberapa bulan lalu dari Behelorens: Ternyata produk kosmetik juga ada kadaluarsanya!
Jadi beberapa bulan yg lalu Behelorens crita ke gw kalo pembersih mukanya udah kadaluarsa.
“bang, pembersih muka yg ku pake barusan kayaknya udah kadaluarsa deh…”
“hah? Emang kosmetik2 gitu pake batas kadaluarsa juga?”
“Ee.. abang ni.. ya ada la…”
Wew… gw takjub aja, sungguh suatu informasi yg membuka cakrawala pikiran gw, soalnya slama ini biasanya kita cuman diajarin untuk merhatiin tanggal kadaluarsa makanan/minuman yg nampang di kemasan produk. Jarang-jarang bahkan blom pernah ada ngingetin buat merhatiin tanggal kadalurasa kalo gw mo beli biore! BELUM PERNAH!!!!!!
Lagian kalo ada kasus-kasus gitu biasanya yg diberitain kayak: “Sejumlah siswa sekolah dasar dilarikan ke rumah sakit karena keracunan makanan yg telah kadaluarsa”
Belum pernah gw denger berita: “sejumlah cewe-cewe abg dilarikan ke RS karena pelembab wajah yg mereka gunakan telah kadaluarsa.” BELUM PERNAH!!!!!
Tapi mpe sekarang gw masih belum ngecek apakah di biore gw emang ada tanggal kadaluarsanya atau nggak karna ga ada waktu merhatiin hal-hal sepele kek gono, (hehe, ngeles karna emang jarang cuci muka aja.. ). Biarlah informasi berharga tadi gw simpen baik-baik en menjadi misteri bagi gw trus dimasukkan kedalam file khusus kayak The X-Files-nya FBI…haha.
Selain informasi berharga barusan, gw juga mo ngasi informasi untuk dunia: JALAN DEPAN RUMAH GW SEKARANG UDAH DI ASPAL!!!! WHUAHAAHA… Akhirnya, setelah 13 tahun gw tinggal di rumah gw sekarang di kawasan Tabing Padang, pemko memberi sentuhan pembangunan, walopun aspalnya-pun aspal jelek yg jadul gitu…tapi tetep, jalan gw ada aspalnya sekarang! Mo ape lu? (bangga banget gw)
Addicted...
Andai rasa sayang itu memiliki wujud fisik dan ilegal seperti kokain
Tentu sekarang gw sudah ditahan dan ikut rehabilitasi
karna kecanduan sayang, menikmati sakau yang menyiksa...
Sayang itu seperti candu
Setiap lintingan rasa, bau, dan sensansinya membuat ketagihan...
Tentu sekarang gw sudah ditahan dan ikut rehabilitasi
karna kecanduan sayang, menikmati sakau yang menyiksa...
Sayang itu seperti candu
Setiap lintingan rasa, bau, dan sensansinya membuat ketagihan...
Talks About Conflict
Ada joke yg mengatakan ketika seorang bayi lahir, konflik juga lahir barengan dengan bayi itu sebagai kembarannya. Joke yg ngegambarin betapa manusia ga pernah lepas dari yg namanya konflik. Gara-gara konflik peradaban suatu bangsa bisa berubah, karna konflik itu sendiri menghadirkan dilema-dilema. Dimana dilema-dilema tersebut mengharuskan seseorang membuat keputusan yg bahkan terkadang berimplikasi teradap hajat hidup orang banyak.
Konflik yg dialami oleh individu juga ga kalah dilematis dibanding konflik-menyangkut-hajat-hidup-orang-banyak-tadi. Karna konflik individu yg akan mempengaruhi kehidupannya kedepan itu juga melibatkan pihak-pihak yg berada disekitarnya seperti blackhole yg mengisap kuat benda-benda angkasa yg berada dalam jangkauan gravitasinya.
Kalo divisualisasikan dengan hamparan ruang angkasa maka akan terlihat banyak sekali blackhole yg berdekatan—nyaris berimpitan--karna ruang angkasa tersebut telah terisi penuh oleh blackhole dan benda angkasa lainnya sebagai gambaran tiap konflik yg dialami oleh tiap individu. Tak jarang suatu benda tertarik kuat oleh dua buah blackhole, bahkan ada juga blackhole besar yg menarik beberapa blackhole yg lebih kecil yg berada didekatnya. Mengenaskan.
Berdasar yg gw tau, ilmu psikologi telah membagi tiga tipe dasar untuk mengklasifikasi ‘blackhole-blackhole individu’ yg terus bermunculan kek sekumpulan jerawat yg menjajah wajah seorang anak yg baru memasuki masa remaja: belum tuntas yg satu, yg lainnya sudah datang bergerombolan.
Dari tiga jenis konflik individu, yg paling sering menghampiri en tergolong gampang buat diatasi yaitu konflik mendekat-mendekat dan konflik menjauh-menjauh. Konflik mendekat-mendekat mencakup hal-hal yg sama-sama diinginkan oleh orang yg mengalami konflik tersebut, sedangkan konflik menjauh-menjauh dialami oleh orang yg ingin menjauhi hal-hal yg tak diingininya. Fait accompli.
Sedangkan yg jarang mendatangi namun paling runyam buat diselesein yaitu gabungan kedua konflik yg gw sebut sebelumnya dan saling bertentangan: konflik mendekat-menjauh. Konflik yg menyebabkan individu yg mengalaminya tersesat dalam kebimbangan hati, terjebak di labirin pemikiran.
Dan ga ada seorangpun manusia yg ngarepin berada di posisi demikian. Yang bikin parah seandainya konflik mendekat-menjauh itu sudah datang sekarang namun baru bisa dituntaskan di masa mendatang. Tak terperi siksa batin yg akan dialami di masa sebelum penuntasan konflik tersebut, bahkan masa penyiksaan itu bukan jaminan konflik dapat berakhir dengan baik. Adakalanya justru melahirkan konflik-konflik baru yg lebih menyiksa.
Bukan sesuatu yg ga mungkin kalo konflik mendekat-menjauh itu diselesaikan diawal datangnya konflik. Bahkan akan lebih baik bila segera tuntas sehingga penderita konflik terhindar dari dilema batin yang mendalam. Namun ga semua orang memiliki keberanian untuk menyelesaikan konlfik mendekat-menjauh yg dialaminya diawal waktu. Banyak hal yg bisa dipelajari dari orang-orang seperti ini. Masalahnya menemukan orang-orang seperti ini seperti mencari daun hijau muda di saat musim gugur. Langka.
Kenyataan bahwa galaunya perasaan sang penderita konflik beserta kenyataan sulitnya menemukan pedoman serta merta menyeret seluruh aspek hidupnya untuk terlibat dalam kerisauan. Dimana kerisauan tersebut hanya mampu memandangi penderita konflik yang berjalan oleng membimbing langkahnya tanpa pegangan, sendiri meraba-raba dalam kelabu hamparan persimpangan.
Pada akhirnya kita tetap harus menentukan sikap, berpihak pada satu simpang. Apapun jenis konflik, bagaimana datangnya, apa saja dimensinya, siapapun yg terlibat, semua tak lepas dari diri penderita juga, dialah yang harus menyelesaikannya sebagai tanggungjawab dirinya yang terjebak dengan kondisi demikian. Dengan sedikit keluasan hati, segala rangkaian kejadian yang mungkin mendatangi setelahnya bisa kita ambil sebagai ibroh, kepekaan hati, pengantar kebijaksaan, betapapun memilukan… wallaahualam.
Konflik yg dialami oleh individu juga ga kalah dilematis dibanding konflik-menyangkut-hajat-hidup-orang-banyak-tadi. Karna konflik individu yg akan mempengaruhi kehidupannya kedepan itu juga melibatkan pihak-pihak yg berada disekitarnya seperti blackhole yg mengisap kuat benda-benda angkasa yg berada dalam jangkauan gravitasinya.
Kalo divisualisasikan dengan hamparan ruang angkasa maka akan terlihat banyak sekali blackhole yg berdekatan—nyaris berimpitan--karna ruang angkasa tersebut telah terisi penuh oleh blackhole dan benda angkasa lainnya sebagai gambaran tiap konflik yg dialami oleh tiap individu. Tak jarang suatu benda tertarik kuat oleh dua buah blackhole, bahkan ada juga blackhole besar yg menarik beberapa blackhole yg lebih kecil yg berada didekatnya. Mengenaskan.
Berdasar yg gw tau, ilmu psikologi telah membagi tiga tipe dasar untuk mengklasifikasi ‘blackhole-blackhole individu’ yg terus bermunculan kek sekumpulan jerawat yg menjajah wajah seorang anak yg baru memasuki masa remaja: belum tuntas yg satu, yg lainnya sudah datang bergerombolan.
Dari tiga jenis konflik individu, yg paling sering menghampiri en tergolong gampang buat diatasi yaitu konflik mendekat-mendekat dan konflik menjauh-menjauh. Konflik mendekat-mendekat mencakup hal-hal yg sama-sama diinginkan oleh orang yg mengalami konflik tersebut, sedangkan konflik menjauh-menjauh dialami oleh orang yg ingin menjauhi hal-hal yg tak diingininya. Fait accompli.
Sedangkan yg jarang mendatangi namun paling runyam buat diselesein yaitu gabungan kedua konflik yg gw sebut sebelumnya dan saling bertentangan: konflik mendekat-menjauh. Konflik yg menyebabkan individu yg mengalaminya tersesat dalam kebimbangan hati, terjebak di labirin pemikiran.
Dan ga ada seorangpun manusia yg ngarepin berada di posisi demikian. Yang bikin parah seandainya konflik mendekat-menjauh itu sudah datang sekarang namun baru bisa dituntaskan di masa mendatang. Tak terperi siksa batin yg akan dialami di masa sebelum penuntasan konflik tersebut, bahkan masa penyiksaan itu bukan jaminan konflik dapat berakhir dengan baik. Adakalanya justru melahirkan konflik-konflik baru yg lebih menyiksa.
Bukan sesuatu yg ga mungkin kalo konflik mendekat-menjauh itu diselesaikan diawal datangnya konflik. Bahkan akan lebih baik bila segera tuntas sehingga penderita konflik terhindar dari dilema batin yang mendalam. Namun ga semua orang memiliki keberanian untuk menyelesaikan konlfik mendekat-menjauh yg dialaminya diawal waktu. Banyak hal yg bisa dipelajari dari orang-orang seperti ini. Masalahnya menemukan orang-orang seperti ini seperti mencari daun hijau muda di saat musim gugur. Langka.
Kenyataan bahwa galaunya perasaan sang penderita konflik beserta kenyataan sulitnya menemukan pedoman serta merta menyeret seluruh aspek hidupnya untuk terlibat dalam kerisauan. Dimana kerisauan tersebut hanya mampu memandangi penderita konflik yang berjalan oleng membimbing langkahnya tanpa pegangan, sendiri meraba-raba dalam kelabu hamparan persimpangan.
Pada akhirnya kita tetap harus menentukan sikap, berpihak pada satu simpang. Apapun jenis konflik, bagaimana datangnya, apa saja dimensinya, siapapun yg terlibat, semua tak lepas dari diri penderita juga, dialah yang harus menyelesaikannya sebagai tanggungjawab dirinya yang terjebak dengan kondisi demikian. Dengan sedikit keluasan hati, segala rangkaian kejadian yang mungkin mendatangi setelahnya bisa kita ambil sebagai ibroh, kepekaan hati, pengantar kebijaksaan, betapapun memilukan… wallaahualam.
G30S (Gempa 30 September) (1): Antara Cobaan dan Hukuman
Bismillah,
Marilah kita mulai postingan kali ini dengan menundukkan kepala sejenak untuk berdoa atas musibah gempa di bumi Minangkabau 30 september 2009 lalu…
…
Seperti yg diajarin nyokap, gw meyakini bahwa yg namanya musibah slalu datang pada saat kita lengah. Pada saat kita ngerasa aman. Ketika Padang sibuk mengantisipasi kalo2 bencana tsunami datang, musibah justru menghampiri di darat melalui runtuhnya bangunan2, bahkan longsoran tanah menimbun 3 desa/nagari di Pariaman sana, menimbun sluruh penduduknya, seperti Allah menghilangkan negeri Saba’. Innalillah…
Kita tentunya udah tau besarnya dampak gempa kemaren dari berita2 di berbagai media. Sebuah pemberitaan yg membobardir yg bahkan sampai H+10 masih berkembang dan masih belum maksimal untuk meliput seluruh tragedi yg terjadi. Sebuah tragedi antara cobaan dan hukuman…
Tiga hari pasca gempa ada temen gw yg nanya, “sebenernya gempa kali ini cobaan atau hukuman sih?”
Jawabannya sama aja buat pertanyaan kek gini, “duluan mana telur ato ayam?” ato “tomat itu sayur ato buah?” Sama aja. Absurd. Tergantung dari sisi mana kita ngeliatnya. Tertangkapnya seorang garong tentu kesialan bagi garong tsb, namun keuntungan bagi masyarakat. Turunnya hujan tentu berkah bagi petani, tapi nggak buat orang yg lagi ngadain kondangan. Tiap musibah sama aja kek analogi barusan.
Permadi Alibasyah dalam bukunya ‘Bahan Renungan Kalbu’ (2000) menyatakan dari seluruh ayat dan hadis yg berisi dalil-dalil tentang musibah, paling nggak ada 3 konsep dimensi:
- Sebagai hukuman dari Allah atas pembangkangan yg dilakukan (konsep sebab-akibat)
- Sebagai penebus dosa di dunia sehingga dengan demikian Allah meringankan siksaan akhirat
- Sebagai cobaan untuk menguji keimanan umat-Nya. (anak sekolahan aja di uji kan buat naek kelas?)
Walopun dari ketiga konsep diatas ujung2nya sama aja: musibah, tapi tetep bagaimana kita meyakini en menyikapi musibah tsb, kek kata pepatah, “apa sih artinya pena emas buat orang yg ga bisa nulis?” orang yg bisa nulis tentu akan menghasilkan ‘sesuatu’ sewaktu ngedapetin pena emas tsb, sedangkan yg ga bisa nulis ga ngasilin apa-apa, bahkan nganggap pena emas itu cuma sbagai beban karna kudu dijaga. En sebaik-baik sikap ketika ngedapetin ‘pena emas’ adalah beristighfar dan berserah diri ‘innalillaahiwainailaihiraji’uun’… darimanapun sudut pandang kita.
“… boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui.”
Marilah kita mulai postingan kali ini dengan menundukkan kepala sejenak untuk berdoa atas musibah gempa di bumi Minangkabau 30 september 2009 lalu…
…
Seperti yg diajarin nyokap, gw meyakini bahwa yg namanya musibah slalu datang pada saat kita lengah. Pada saat kita ngerasa aman. Ketika Padang sibuk mengantisipasi kalo2 bencana tsunami datang, musibah justru menghampiri di darat melalui runtuhnya bangunan2, bahkan longsoran tanah menimbun 3 desa/nagari di Pariaman sana, menimbun sluruh penduduknya, seperti Allah menghilangkan negeri Saba’. Innalillah…
Kita tentunya udah tau besarnya dampak gempa kemaren dari berita2 di berbagai media. Sebuah pemberitaan yg membobardir yg bahkan sampai H+10 masih berkembang dan masih belum maksimal untuk meliput seluruh tragedi yg terjadi. Sebuah tragedi antara cobaan dan hukuman…
Tiga hari pasca gempa ada temen gw yg nanya, “sebenernya gempa kali ini cobaan atau hukuman sih?”
Jawabannya sama aja buat pertanyaan kek gini, “duluan mana telur ato ayam?” ato “tomat itu sayur ato buah?” Sama aja. Absurd. Tergantung dari sisi mana kita ngeliatnya. Tertangkapnya seorang garong tentu kesialan bagi garong tsb, namun keuntungan bagi masyarakat. Turunnya hujan tentu berkah bagi petani, tapi nggak buat orang yg lagi ngadain kondangan. Tiap musibah sama aja kek analogi barusan.
Permadi Alibasyah dalam bukunya ‘Bahan Renungan Kalbu’ (2000) menyatakan dari seluruh ayat dan hadis yg berisi dalil-dalil tentang musibah, paling nggak ada 3 konsep dimensi:
- Sebagai hukuman dari Allah atas pembangkangan yg dilakukan (konsep sebab-akibat)
- Sebagai penebus dosa di dunia sehingga dengan demikian Allah meringankan siksaan akhirat
- Sebagai cobaan untuk menguji keimanan umat-Nya. (anak sekolahan aja di uji kan buat naek kelas?)
Walopun dari ketiga konsep diatas ujung2nya sama aja: musibah, tapi tetep bagaimana kita meyakini en menyikapi musibah tsb, kek kata pepatah, “apa sih artinya pena emas buat orang yg ga bisa nulis?” orang yg bisa nulis tentu akan menghasilkan ‘sesuatu’ sewaktu ngedapetin pena emas tsb, sedangkan yg ga bisa nulis ga ngasilin apa-apa, bahkan nganggap pena emas itu cuma sbagai beban karna kudu dijaga. En sebaik-baik sikap ketika ngedapetin ‘pena emas’ adalah beristighfar dan berserah diri ‘innalillaahiwainailaihiraji’uun’… darimanapun sudut pandang kita.
“… boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui.”
Langganan:
Postingan (Atom)
