Resolusi 2013

Ini, marilah saya jadi ingin buat resolusi tahun 2013 ini.
Satu yang utama dan terpenting, dapat kerjaan yang settle dan tulisan saya untuk buku bisa jadi.

Amiiin.

Satu lagi sih mungkin bukan resolusi, tapi cendrung pada harapan dan doa: agar tidak lagi kedua orang tua, ataupun anggota keluarga yang mesti di rawat di rumah sakit karena sakit yang berat.

Sejak 2008, Om saya sakit dan meninggal di RS Selasih karena sakit paru-paru.
Dua minggu berselang, Ayah juga mesti dirawat disana karena  hipertensi dan vertigo.

Tahun 2009, tidak lama setelah gempa besar 2009 di Padang,  Ibu di rawat di RS Semen Padang karena diabetes dan kelelahan serta stres pasca gempa.

Tahun 2010 Ibu mesti dirawat di RS Yarsi Ibnu Sina dengan penyebab yang sama, diabetes dan kelelahan mengajar di kampus.

Tahun 2011, Ayah dirawat lagi di RS Siti Rahmah karena stroke, pembuluh darah di otak kiri yang pecah menyebabkan bagian tubuh Ayah sebelah kanan menjadi lumpuh, sekarang Alhamdulillah sudah bisa jalan meski tangan kanan masih belum bisa digerakkan. Tapi pun itu betapa kami sekeluarga sangat bersyukur. Masih ingat dulu waktu Ayah koma di ICU, dokternya bilang peluangnya 50-50.

Tahun 2012, kembali Ibu dirawat di RS Yarsi Ibnu Sina saat bulan Ramadhan. Masih sama, diabetes dan kelelahan ngajar. Dan stres sebelum berangkat haji, karena mestinya pergi bersama Ayah, tapi karena kondisi Ayah yang tidak memungkinkan sehingga mesti berangkat sendiri, menjadi beban batin tersendiri bagi Ibu.

Sehingga wajar lah saya kemudian jadi berdoa agar tidak lagi hal-hal yang terjadi lima tahun belakangan ini berulang kembali. Betapapun, semoga bisa jadi penghapus dosa bagi beliau berdua dengan sakitnya, menjadi pembelajaran saya dan kakak untuk dewasa, memperhatikan kesehatan orang tua, tentu juga bisa menjaga kesehatan diri sendiri.
Serta keberkahan bagi sanak famili dan kerabat karena sangat perhatian dan bantuannya. Perhatian dan bantuan mereka itu Tuan, sangat membantu saya dan kakak dapat menghadapi cobaan ini dengan lebih tenang.

Amiiinn Ya Allah.

Habis mendengar cerita pengalaman-pengalaman seorang polisi. Dengan sebuah kesimpulan kasar, rasanya, polisi-polisi ini adalah tukang-tukang palak yang disahkan oleh undang-undang.


Dalam temaram bulan yang mulai luruh, di sisi tropis planet kehidupan, sedikit mendesak Matahari menyuruh bulan untuk menyingkir sesegera mungkin. Minggir Kau Bulan, Tuhan bilang sudah saatnya aku yang tampil.

Apa, kenapa?

Karena itulah Bumi itu, Lan. Kita memang mesti menempatkan diri secara adil.

Apa? Tapi di bagian bumi utara dan beberapa lainnya engkau baru menyingkir setelah 20 jam. Sehingga manusia di sana, hanya merasakan gelap dalam empat jam saja. Sepertinya Tuhan tidak adil.

Adil kawan, bahkan ketika saya bersinar, manusia-manusia di sana tetap berjalan dengan menggunakan mantel, bayangkan, mereka mengenakan mantel ketika saya sedang terik. Seakan saya tidak ada artinya kehadiran saya. Dan bayangkan, di bagian tropis yang kita hadapi ini, mana ada manusia yang berani menggunakan mantel ketika saya tampil. 

Ah ya. Lalu?

Karena dengan aku tetap bersinar di bumi utara dan yang lainnya, bahkan pada pukul 22.00,  mereka bisa terhindar dari dingin yang berlebihan. Karena apa? Agar mereka tidak mati membeku kalau kamu yang justru hadir. Aku, kawan, menjadi penyeimbang bagi situasi geografis yang mereka hadapi.

Hmm., ya kukira begitu, Matahari. 

Dan, dan, bukankah, bukankah kawan, di negri tropis ini, terkadang engkau masih diijinkan menampakkan diri di saat aku bekerja? Engkau Bulan, masih diperbolehkan Tuhan tampil siang hari. Sehingga bagi manusia-manusia yang iseng melihat ke langit pada siang itu, dapat berteriak-teriak ‘lihat, ada bulaannn…’ ‘iyaa,,,.siang-siang begini? Bagus ya?’ Padahal, itu adalah saat aku bekerja dan sepantasnya beroleh pujian. Tetapi bulatmu yang pucat masih juga terlihat meski aku telah minta awan dan atmosfer untuk menyamarkanmu. Dan sedikitpun aku tak diberi izin untuk sekilas tampil saat kau bekerja. Apa yang akan terjadi pada bumi jadinya seandainya itu terjadi?

Oh tidak, aku telah berburuk sangka pada Tuhan. Terimakasih saudaraku telah mengingatkanku.  

Tenang bulan, Tuhan Maha Pemaaf, bagaimanapun inilah kita. Paling tidak inilah yang bisa kita berikan kepada manusia di bumi, sebagai Khalifah-Nya. Tuhan telah dengan adil menugaskan kita, dengan pembagian tegas, bahwa adil tidak selalu berarti sama banyak kan? Juga bulan, bukankah Tuhan telah mewahyukan hamba-Nya melalui Rasulnya Muhammad yang mulia itu, kau ingat? Yang bisa ‘membelahmu’ dengan telunjuknya?

Haha ya, ya aku ingat dia. Semoga keselamatan selalu tercurah kepadanya, keluarga, sahabat, serta umatnya.

Ya, dalam wahyunya kita disebut-sebut. Bahagialah bulan, bahwa dalam pergiliran Bulan dan Matahari, dalam pergantian siang dan malam yang kita lakukan, terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang berpikir.

FRIENDS Trap

Dan saya, masih terjebak euforia dengan DVD Friends yang baru saya dapat. 
Dari enam pemeran utamanya itu, sepertinya hanya tante cantik Jennifer Anniston lah yang berhasil keluar dari karakternya sebagai Rachel Greene di film-film lain. 

Sedangkan Lisa Kudrow (Phoebe) praktis baru belakangan terdengar lagi namanya di film-film, berhubung usia, ya perannya kebanyakan menjadi Ibu dari anak-anak usia puber. Dan David Schwimmer (Ross), hanya terdengar suaranya sebagai pemeran Jerapah dalam film-film Madagascar. 

Untuk Matthew Perry (Chandler), Courtney Cox (Monica), dan Matt LeBlanc (Joey), hampir-hampir nggak kedengeran lagi namanya di Hollywood dalam membintangi film-film lain. Padahal, untuk Courtney Cox, sebelum tampil di Friends, dialah yang memiliki track paling bagus dan berpengalaman sebagai artis karena telah membintangi salah satu film komedi terkenal paporit saya: Ace Ventura.

Seakan-akan, mereka itu benar-benar telah tenggelam dalam perannya di serial Friends. Peran mereka itu, seakan sejalan dengan pribadi mereka sehari-hari. 

Bagaimana nggak, sepuluh tahun akting menjalankan peran masing-masing dengan cerita kehidupan sehari-hari, ya bisa aja jadinya peran itu kebawa-bawa pula dalam kehidupan ril mereka.

Dan ini saya jadi teringat pula dengan salah satu sinetron terbaik Indonesia, Si Doel Anak Sekolahan. Sinetron yang jalan beberapa tahun dan sukses besar, juga menceritakan kehidupan sehari-hari, membuat pemerannya jadi terperangkap dengan image yang mereka bawakan. Bisa bayangin aja dong sekarang masing-masing tokoh di Si Doel itu seperti di sinetron dengan pembawaan mereka sekarang? Masih ada karakter yang tertinggal di diri mereka masing-masing kan???

Menurut saya siiihhhh...



 
Yeaaiiyyy... Hari Sabtu inilah, bisa nonton senanghati. Sambil sarapan. Santaiii Tuan. 
Tapi dengan chanel yang mengganggu ini, acara musik. Nampilin boyband. Tahan dulu muntahnya Tuan, karena selain sekedar boyband, ini boybandnya masih anak esde..! 

Apa sih yang ada dipikiran mereka. Bukan pikiran mereka aja sih, juga, pemikiran orang tuanya? Waktu saya esde mah kalau nyanyi-nyanyi begituan bagus aja kalau ga digamparin Ibu. 
Kalau pemikiran produser dan orang TV mah udah jelas, duit aja yang penting bisa masuk dari rating. 

Kemarin itu juga sempet di kantor, seorang kawan muter-muter channel dan kemudian stuck di SCTV, liat serial drama dimana pemerannya anak esde juga. Serial anak-anak kali ya. Eh tapi adegannya kemudian tu anak esde bedua pacaran. Gilakkkk.. 

Nggak, bukannya saya dan mungkin Tuan semuanya nggak ada rasa naksir-naksiran begitu pada seusia itu. Tapi kemudian kalau itu jadi diekspos dan diumbar-umbar pas saat itu, paling nggak, ada rasa malu lahhh...

Sekarang sih udah nggak ya? He. Rusak moral.