Andai rasa sayang itu memiliki wujud fisik dan ilegal seperti kokain
Tentu sekarang gw sudah ditahan dan ikut rehabilitasi
karna kecanduan sayang, menikmati sakau yang menyiksa...
Sayang itu seperti candu
Setiap lintingan rasa, bau, dan sensansinya membuat ketagihan...
Minggu, 22 November 2009
Kamis, 12 November 2009
Talks About Conflict
Ada joke yg mengatakan ketika seorang bayi lahir, konflik juga lahir barengan dengan bayi itu sebagai kembarannya. Joke yg ngegambarin betapa manusia ga pernah lepas dari yg namanya konflik. Gara-gara konflik peradaban suatu bangsa bisa berubah, karna konflik itu sendiri menghadirkan dilema-dilema. Dimana dilema-dilema tersebut mengharuskan seseorang membuat keputusan yg bahkan terkadang berimplikasi teradap hajat hidup orang banyak.
Konflik yg dialami oleh individu juga ga kalah dilematis dibanding konflik-menyangkut-hajat-hidup-orang-banyak-tadi. Karna konflik individu yg akan mempengaruhi kehidupannya kedepan itu juga melibatkan pihak-pihak yg berada disekitarnya seperti blackhole yg mengisap kuat benda-benda angkasa yg berada dalam jangkauan gravitasinya.
Kalo divisualisasikan dengan hamparan ruang angkasa maka akan terlihat banyak sekali blackhole yg berdekatan—nyaris berimpitan--karna ruang angkasa tersebut telah terisi penuh oleh blackhole dan benda angkasa lainnya sebagai gambaran tiap konflik yg dialami oleh tiap individu. Tak jarang suatu benda tertarik kuat oleh dua buah blackhole, bahkan ada juga blackhole besar yg menarik beberapa blackhole yg lebih kecil yg berada didekatnya. Mengenaskan.
Berdasar yg gw tau, ilmu psikologi telah membagi tiga tipe dasar untuk mengklasifikasi ‘blackhole-blackhole individu’ yg terus bermunculan kek sekumpulan jerawat yg menjajah wajah seorang anak yg baru memasuki masa remaja: belum tuntas yg satu, yg lainnya sudah datang bergerombolan.
Dari tiga jenis konflik individu, yg paling sering menghampiri en tergolong gampang buat diatasi yaitu konflik mendekat-mendekat dan konflik menjauh-menjauh. Konflik mendekat-mendekat mencakup hal-hal yg sama-sama diinginkan oleh orang yg mengalami konflik tersebut, sedangkan konflik menjauh-menjauh dialami oleh orang yg ingin menjauhi hal-hal yg tak diingininya. Fait accompli.
Sedangkan yg jarang mendatangi namun paling runyam buat diselesein yaitu gabungan kedua konflik yg gw sebut sebelumnya dan saling bertentangan: konflik mendekat-menjauh. Konflik yg menyebabkan individu yg mengalaminya tersesat dalam kebimbangan hati, terjebak di labirin pemikiran.
Dan ga ada seorangpun manusia yg ngarepin berada di posisi demikian. Yang bikin parah seandainya konflik mendekat-menjauh itu sudah datang sekarang namun baru bisa dituntaskan di masa mendatang. Tak terperi siksa batin yg akan dialami di masa sebelum penuntasan konflik tersebut, bahkan masa penyiksaan itu bukan jaminan konflik dapat berakhir dengan baik. Adakalanya justru melahirkan konflik-konflik baru yg lebih menyiksa.
Bukan sesuatu yg ga mungkin kalo konflik mendekat-menjauh itu diselesaikan diawal datangnya konflik. Bahkan akan lebih baik bila segera tuntas sehingga penderita konflik terhindar dari dilema batin yang mendalam. Namun ga semua orang memiliki keberanian untuk menyelesaikan konlfik mendekat-menjauh yg dialaminya diawal waktu. Banyak hal yg bisa dipelajari dari orang-orang seperti ini. Masalahnya menemukan orang-orang seperti ini seperti mencari daun hijau muda di saat musim gugur. Langka.
Kenyataan bahwa galaunya perasaan sang penderita konflik beserta kenyataan sulitnya menemukan pedoman serta merta menyeret seluruh aspek hidupnya untuk terlibat dalam kerisauan. Dimana kerisauan tersebut hanya mampu memandangi penderita konflik yang berjalan oleng membimbing langkahnya tanpa pegangan, sendiri meraba-raba dalam kelabu hamparan persimpangan.
Pada akhirnya kita tetap harus menentukan sikap, berpihak pada satu simpang. Apapun jenis konflik, bagaimana datangnya, apa saja dimensinya, siapapun yg terlibat, semua tak lepas dari diri penderita juga, dialah yang harus menyelesaikannya sebagai tanggungjawab dirinya yang terjebak dengan kondisi demikian. Dengan sedikit keluasan hati, segala rangkaian kejadian yang mungkin mendatangi setelahnya bisa kita ambil sebagai ibroh, kepekaan hati, pengantar kebijaksaan, betapapun memilukan… wallaahualam.
Konflik yg dialami oleh individu juga ga kalah dilematis dibanding konflik-menyangkut-hajat-hidup-orang-banyak-tadi. Karna konflik individu yg akan mempengaruhi kehidupannya kedepan itu juga melibatkan pihak-pihak yg berada disekitarnya seperti blackhole yg mengisap kuat benda-benda angkasa yg berada dalam jangkauan gravitasinya.
Kalo divisualisasikan dengan hamparan ruang angkasa maka akan terlihat banyak sekali blackhole yg berdekatan—nyaris berimpitan--karna ruang angkasa tersebut telah terisi penuh oleh blackhole dan benda angkasa lainnya sebagai gambaran tiap konflik yg dialami oleh tiap individu. Tak jarang suatu benda tertarik kuat oleh dua buah blackhole, bahkan ada juga blackhole besar yg menarik beberapa blackhole yg lebih kecil yg berada didekatnya. Mengenaskan.
Berdasar yg gw tau, ilmu psikologi telah membagi tiga tipe dasar untuk mengklasifikasi ‘blackhole-blackhole individu’ yg terus bermunculan kek sekumpulan jerawat yg menjajah wajah seorang anak yg baru memasuki masa remaja: belum tuntas yg satu, yg lainnya sudah datang bergerombolan.
Dari tiga jenis konflik individu, yg paling sering menghampiri en tergolong gampang buat diatasi yaitu konflik mendekat-mendekat dan konflik menjauh-menjauh. Konflik mendekat-mendekat mencakup hal-hal yg sama-sama diinginkan oleh orang yg mengalami konflik tersebut, sedangkan konflik menjauh-menjauh dialami oleh orang yg ingin menjauhi hal-hal yg tak diingininya. Fait accompli.
Sedangkan yg jarang mendatangi namun paling runyam buat diselesein yaitu gabungan kedua konflik yg gw sebut sebelumnya dan saling bertentangan: konflik mendekat-menjauh. Konflik yg menyebabkan individu yg mengalaminya tersesat dalam kebimbangan hati, terjebak di labirin pemikiran.
Dan ga ada seorangpun manusia yg ngarepin berada di posisi demikian. Yang bikin parah seandainya konflik mendekat-menjauh itu sudah datang sekarang namun baru bisa dituntaskan di masa mendatang. Tak terperi siksa batin yg akan dialami di masa sebelum penuntasan konflik tersebut, bahkan masa penyiksaan itu bukan jaminan konflik dapat berakhir dengan baik. Adakalanya justru melahirkan konflik-konflik baru yg lebih menyiksa.
Bukan sesuatu yg ga mungkin kalo konflik mendekat-menjauh itu diselesaikan diawal datangnya konflik. Bahkan akan lebih baik bila segera tuntas sehingga penderita konflik terhindar dari dilema batin yang mendalam. Namun ga semua orang memiliki keberanian untuk menyelesaikan konlfik mendekat-menjauh yg dialaminya diawal waktu. Banyak hal yg bisa dipelajari dari orang-orang seperti ini. Masalahnya menemukan orang-orang seperti ini seperti mencari daun hijau muda di saat musim gugur. Langka.
Kenyataan bahwa galaunya perasaan sang penderita konflik beserta kenyataan sulitnya menemukan pedoman serta merta menyeret seluruh aspek hidupnya untuk terlibat dalam kerisauan. Dimana kerisauan tersebut hanya mampu memandangi penderita konflik yang berjalan oleng membimbing langkahnya tanpa pegangan, sendiri meraba-raba dalam kelabu hamparan persimpangan.
Pada akhirnya kita tetap harus menentukan sikap, berpihak pada satu simpang. Apapun jenis konflik, bagaimana datangnya, apa saja dimensinya, siapapun yg terlibat, semua tak lepas dari diri penderita juga, dialah yang harus menyelesaikannya sebagai tanggungjawab dirinya yang terjebak dengan kondisi demikian. Dengan sedikit keluasan hati, segala rangkaian kejadian yang mungkin mendatangi setelahnya bisa kita ambil sebagai ibroh, kepekaan hati, pengantar kebijaksaan, betapapun memilukan… wallaahualam.
Jumat, 06 November 2009
Jumat, 09 Oktober 2009
G30S (Gempa 30 September) (1): Antara Cobaan dan Hukuman
Bismillah,
Marilah kita mulai postingan kali ini dengan menundukkan kepala sejenak untuk berdoa atas musibah gempa di bumi Minangkabau 30 september 2009 lalu…
…
Seperti yg diajarin nyokap, gw meyakini bahwa yg namanya musibah slalu datang pada saat kita lengah. Pada saat kita ngerasa aman. Ketika Padang sibuk mengantisipasi kalo2 bencana tsunami datang, musibah justru menghampiri di darat melalui runtuhnya bangunan2, bahkan longsoran tanah menimbun 3 desa/nagari di Pariaman sana, menimbun sluruh penduduknya, seperti Allah menghilangkan negeri Saba’. Innalillah…
Kita tentunya udah tau besarnya dampak gempa kemaren dari berita2 di berbagai media. Sebuah pemberitaan yg membobardir yg bahkan sampai H+10 masih berkembang dan masih belum maksimal untuk meliput seluruh tragedi yg terjadi. Sebuah tragedi antara cobaan dan hukuman…
Tiga hari pasca gempa ada temen gw yg nanya, “sebenernya gempa kali ini cobaan atau hukuman sih?”
Jawabannya sama aja buat pertanyaan kek gini, “duluan mana telur ato ayam?” ato “tomat itu sayur ato buah?” Sama aja. Absurd. Tergantung dari sisi mana kita ngeliatnya. Tertangkapnya seorang garong tentu kesialan bagi garong tsb, namun keuntungan bagi masyarakat. Turunnya hujan tentu berkah bagi petani, tapi nggak buat orang yg lagi ngadain kondangan. Tiap musibah sama aja kek analogi barusan.
Permadi Alibasyah dalam bukunya ‘Bahan Renungan Kalbu’ (2000) menyatakan dari seluruh ayat dan hadis yg berisi dalil-dalil tentang musibah, paling nggak ada 3 konsep dimensi:
- Sebagai hukuman dari Allah atas pembangkangan yg dilakukan (konsep sebab-akibat)
- Sebagai penebus dosa di dunia sehingga dengan demikian Allah meringankan siksaan akhirat
- Sebagai cobaan untuk menguji keimanan umat-Nya. (anak sekolahan aja di uji kan buat naek kelas?)
Walopun dari ketiga konsep diatas ujung2nya sama aja: musibah, tapi tetep bagaimana kita meyakini en menyikapi musibah tsb, kek kata pepatah, “apa sih artinya pena emas buat orang yg ga bisa nulis?” orang yg bisa nulis tentu akan menghasilkan ‘sesuatu’ sewaktu ngedapetin pena emas tsb, sedangkan yg ga bisa nulis ga ngasilin apa-apa, bahkan nganggap pena emas itu cuma sbagai beban karna kudu dijaga. En sebaik-baik sikap ketika ngedapetin ‘pena emas’ adalah beristighfar dan berserah diri ‘innalillaahiwainailaihiraji’uun’… darimanapun sudut pandang kita.
“… boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui.”
Marilah kita mulai postingan kali ini dengan menundukkan kepala sejenak untuk berdoa atas musibah gempa di bumi Minangkabau 30 september 2009 lalu…
…
Seperti yg diajarin nyokap, gw meyakini bahwa yg namanya musibah slalu datang pada saat kita lengah. Pada saat kita ngerasa aman. Ketika Padang sibuk mengantisipasi kalo2 bencana tsunami datang, musibah justru menghampiri di darat melalui runtuhnya bangunan2, bahkan longsoran tanah menimbun 3 desa/nagari di Pariaman sana, menimbun sluruh penduduknya, seperti Allah menghilangkan negeri Saba’. Innalillah…
Kita tentunya udah tau besarnya dampak gempa kemaren dari berita2 di berbagai media. Sebuah pemberitaan yg membobardir yg bahkan sampai H+10 masih berkembang dan masih belum maksimal untuk meliput seluruh tragedi yg terjadi. Sebuah tragedi antara cobaan dan hukuman…
Tiga hari pasca gempa ada temen gw yg nanya, “sebenernya gempa kali ini cobaan atau hukuman sih?”
Jawabannya sama aja buat pertanyaan kek gini, “duluan mana telur ato ayam?” ato “tomat itu sayur ato buah?” Sama aja. Absurd. Tergantung dari sisi mana kita ngeliatnya. Tertangkapnya seorang garong tentu kesialan bagi garong tsb, namun keuntungan bagi masyarakat. Turunnya hujan tentu berkah bagi petani, tapi nggak buat orang yg lagi ngadain kondangan. Tiap musibah sama aja kek analogi barusan.
Permadi Alibasyah dalam bukunya ‘Bahan Renungan Kalbu’ (2000) menyatakan dari seluruh ayat dan hadis yg berisi dalil-dalil tentang musibah, paling nggak ada 3 konsep dimensi:
- Sebagai hukuman dari Allah atas pembangkangan yg dilakukan (konsep sebab-akibat)
- Sebagai penebus dosa di dunia sehingga dengan demikian Allah meringankan siksaan akhirat
- Sebagai cobaan untuk menguji keimanan umat-Nya. (anak sekolahan aja di uji kan buat naek kelas?)
Walopun dari ketiga konsep diatas ujung2nya sama aja: musibah, tapi tetep bagaimana kita meyakini en menyikapi musibah tsb, kek kata pepatah, “apa sih artinya pena emas buat orang yg ga bisa nulis?” orang yg bisa nulis tentu akan menghasilkan ‘sesuatu’ sewaktu ngedapetin pena emas tsb, sedangkan yg ga bisa nulis ga ngasilin apa-apa, bahkan nganggap pena emas itu cuma sbagai beban karna kudu dijaga. En sebaik-baik sikap ketika ngedapetin ‘pena emas’ adalah beristighfar dan berserah diri ‘innalillaahiwainailaihiraji’uun’… darimanapun sudut pandang kita.
“… boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui.”
Kamis, 24 September 2009
Ramadhan Review
Walopun telat beberapa hari, gw masih pengen ngucapin
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ^_^
anyway, gimana puasa temen2 sebulan ini? Ada yg sukses dapetin lailatul qadar ga?
Kalo gw yg ada ramadhan kali ini malah bikin kurus, puasa sukses merampas cadangan lemak tubuh gw yg emang dikit, kek kata nyokap gw
nyokap :
rif, sejak puasa kemaren kok kamu makin kurus? biasanya tiap puasa badanmu nambah..
gw :masa'?
nyokap :iya liat muka kamu tuh udah bersegi-segi gitu.. kamu ga make narkoba kan?
gw :HAH???
Bujug deh gw disangka konsumsi obat2 terlarang, minum tablet bodrex rasa jeruk aja gw teler..
Pas gw critain ke temen gw
gw : eh, gw puasa kok tambah kurus ya?
temen gw: PUASA LO GA BERHIKMAH SEEH!!!!!
Huh, salah nanya orang deh keknya...
Terlepas dari kontroversi bodi tipis gw yg banyak diidam-idamkan calon model di paris en milan sana (haha), gw ngerasa perkataan ngaco temen gw itu ada benarnya juga.
Gw jadi ngerasa ga pantes buat ngerayain lebaran. Lebaran cuman buat yg berhasil ngelewatin ujian slama sebulan penuh. Lahir batin.
Gw belon sukses ngejalanin Ramadhan taon ini dengan baik, sifat jelek gw ga berkurang, ibadah juga kaga ningkat. Grafik spiritual gw slama ramadhan ini lebih jelek dibanding ramadahan2 sebelonnya.
Moga kalo Allah masih ngijinin buat ketemu Ramadhan brikutnya gw bisa lebih baik lagi.
Slamat tinggal Ramadhan 1430 H, slamat datang kembali rutinitas dunia..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ^_^
anyway, gimana puasa temen2 sebulan ini? Ada yg sukses dapetin lailatul qadar ga?
Kalo gw yg ada ramadhan kali ini malah bikin kurus, puasa sukses merampas cadangan lemak tubuh gw yg emang dikit, kek kata nyokap gw
nyokap :
rif, sejak puasa kemaren kok kamu makin kurus? biasanya tiap puasa badanmu nambah..
gw :masa'?
nyokap :iya liat muka kamu tuh udah bersegi-segi gitu.. kamu ga make narkoba kan?
gw :HAH???
Bujug deh gw disangka konsumsi obat2 terlarang, minum tablet bodrex rasa jeruk aja gw teler..
Pas gw critain ke temen gw
gw : eh, gw puasa kok tambah kurus ya?
temen gw: PUASA LO GA BERHIKMAH SEEH!!!!!
Huh, salah nanya orang deh keknya...
Terlepas dari kontroversi bodi tipis gw yg banyak diidam-idamkan calon model di paris en milan sana (haha), gw ngerasa perkataan ngaco temen gw itu ada benarnya juga.
Gw jadi ngerasa ga pantes buat ngerayain lebaran. Lebaran cuman buat yg berhasil ngelewatin ujian slama sebulan penuh. Lahir batin.
Gw belon sukses ngejalanin Ramadhan taon ini dengan baik, sifat jelek gw ga berkurang, ibadah juga kaga ningkat. Grafik spiritual gw slama ramadhan ini lebih jelek dibanding ramadahan2 sebelonnya.
Moga kalo Allah masih ngijinin buat ketemu Ramadhan brikutnya gw bisa lebih baik lagi.
Slamat tinggal Ramadhan 1430 H, slamat datang kembali rutinitas dunia..
Rabu, 02 September 2009
Bailout Bank Century
Huahh.. rahang gw lagi sakit gara-gara kebanyakan nguap, dan gw itu kalo nguap mangapnya gede banget, moncong buaya aja kalah, makanya rahang gw sakit jadinya... hehe
Selain karna 'menderita' kontra-insomnia yg gw critain kemaren yg bikin gw sering nganga buat nguap, seminggu ini mulut gw juga nganga ngedenger kasus dana talangan Bank Century (BC).Dana segede 6.7 triliun rupiah yg dikasih pemerintah melalui LPS atas ijin menkeu Sri Mulyani kayaknya ga masuk diakal banget.
Mungkin temen2 masih inget awal mula kasus penggelapan dana nasabah yg dilakukan pemilik dan pemimpin BC beberapa waktu yg lalu, gw juga pernah ceritain kasusnya DI POSTINGAN INI. Nah, Bank Indonesia (BI) menilai kondisi kapitalisasi BC udah masuk kategori gagal en perlu diambil-alih LPS. Jika BC ga segera diselamatkan dan dibiarkan bangkrut gitu aja maka dapat memicu kepanikan masyarakat dan pasar uang. Sistem pembayaran juga terancam karna ada 23 bank lain yg diangap BI berpotensi krisis.
Makanya BI berkordinasi dg pemerintah melalui Menkeu buat nyediain dana talangan (bailout) untuk menyelamatkan BC. Dana kucuran yg diturunin empat tahap itu ampe juni 2009 udah mencapai Rp 6.7 triliun! gw ulang deh biar kagetnya lebih ekspresif: dana talangannya udah mencapai 6.7 triliun rupiah! Haha... kenapa gw fokus di nominal tersebut, karna itulah yg dipermasalahkan berbagai pihak saat ini. Yang dipermasalahkan bukan kenapa BI mau menyelamatkan BC, tetapi kenapa dana penyelamatannya bisa segede itu!
Paling nggak yg dipermasalahkan masyarakat (berdasar fakta dan kondisi yg ada):
- Dari Rp 6.7 T tersebut, belum serupiah pun yg sampai ke tangan nasabah yg udah dirugiin.
- Dana yg udah diturunkan pemerintah (dari november 2008 sampai juni 2009) mencapai Rp 6.7 T, tetapi BC masih aja membukukan rugi tahun berjalan hingga Rp 9.04 T. WTF????
- Dana talangannya kok bisa 5 kali lebih gede dari assetnya yg cuma Rp 1.3 T??? Edannn...
- Anggaran Depperin aja cuma Rp 1.6 T, sementara Depkop cuma Rp 700 miliar, lha kok BC yg cuma bank swasta kecil itu aja bisa dikasih ampe Rp 6.7 T. Bahkan permintaan TNI untuk menambah perlengkapan militer yg jelas2 untuk pertahanan bangsa ditolak pemerintah (menkeu). Sekali lagi, WTF?????
Sepanjang yg gw tau, program bantuan pemerintah berupa dana talangan/bailout ga pernah sekalipun yg sukses, contohnya aja kasus yg terkenal en terbodoh pada 1998, kasus BLBI yg justru membuat Indonesia berhutang sampe tahun 2033! Kejadiannya ga cuma di negara berkembang, di negara majupun sama aja. Kita tau kemaren pemerintah AS ngasih dana bailout sebesar $ 700M buat menyelamatkan industri otomotif, khususnya pabrikan General Motor, namun yg ada sebulan kemudian GM justru makin mendekati kolaps. Jadi kesannya pihak-pihak yg mendapat dana bantuan malah jadi manja, dan efek lainnya tentu perusahaan-perusahaan yg juga terancam krisis akan membiarkan krisis terjadi, toh nanti akan dibantu pemerintah juga...
Hal inilah kayaknya yg perlu dipikirin lagi oleh pemerintah, apalagi buat menkeu sri mulyani agar bisa kembali dipercaya buat memimpin depkeu 5 tahun kedepan. Performa beliau yg slama ini bagus malah rusak di akhir masa jabatan gara2 teledor mengeluarkan dana masyarakat sebesar Rp 6.7 T untuk hal yg ga urgent dg kondisi bangsa saat ini. Ingat Buk, Rp 6.7 T itu gede, sangat berfaedah jika digunain buat bangun sekolah, apalagi kalo dibeliin ke es duren, semua penduduk Indonesia bisa kebagian lho... (duh, lupa kalo lagi puasa, mikirnya es mulu..hehe)
Selain karna 'menderita' kontra-insomnia yg gw critain kemaren yg bikin gw sering nganga buat nguap, seminggu ini mulut gw juga nganga ngedenger kasus dana talangan Bank Century (BC).Dana segede 6.7 triliun rupiah yg dikasih pemerintah melalui LPS atas ijin menkeu Sri Mulyani kayaknya ga masuk diakal banget.
Mungkin temen2 masih inget awal mula kasus penggelapan dana nasabah yg dilakukan pemilik dan pemimpin BC beberapa waktu yg lalu, gw juga pernah ceritain kasusnya DI POSTINGAN INI. Nah, Bank Indonesia (BI) menilai kondisi kapitalisasi BC udah masuk kategori gagal en perlu diambil-alih LPS. Jika BC ga segera diselamatkan dan dibiarkan bangkrut gitu aja maka dapat memicu kepanikan masyarakat dan pasar uang. Sistem pembayaran juga terancam karna ada 23 bank lain yg diangap BI berpotensi krisis.
Makanya BI berkordinasi dg pemerintah melalui Menkeu buat nyediain dana talangan (bailout) untuk menyelamatkan BC. Dana kucuran yg diturunin empat tahap itu ampe juni 2009 udah mencapai Rp 6.7 triliun! gw ulang deh biar kagetnya lebih ekspresif: dana talangannya udah mencapai 6.7 triliun rupiah! Haha... kenapa gw fokus di nominal tersebut, karna itulah yg dipermasalahkan berbagai pihak saat ini. Yang dipermasalahkan bukan kenapa BI mau menyelamatkan BC, tetapi kenapa dana penyelamatannya bisa segede itu!
Paling nggak yg dipermasalahkan masyarakat (berdasar fakta dan kondisi yg ada):
- Dari Rp 6.7 T tersebut, belum serupiah pun yg sampai ke tangan nasabah yg udah dirugiin.
- Dana yg udah diturunkan pemerintah (dari november 2008 sampai juni 2009) mencapai Rp 6.7 T, tetapi BC masih aja membukukan rugi tahun berjalan hingga Rp 9.04 T. WTF????
- Dana talangannya kok bisa 5 kali lebih gede dari assetnya yg cuma Rp 1.3 T??? Edannn...
- Anggaran Depperin aja cuma Rp 1.6 T, sementara Depkop cuma Rp 700 miliar, lha kok BC yg cuma bank swasta kecil itu aja bisa dikasih ampe Rp 6.7 T. Bahkan permintaan TNI untuk menambah perlengkapan militer yg jelas2 untuk pertahanan bangsa ditolak pemerintah (menkeu). Sekali lagi, WTF?????
Sepanjang yg gw tau, program bantuan pemerintah berupa dana talangan/bailout ga pernah sekalipun yg sukses, contohnya aja kasus yg terkenal en terbodoh pada 1998, kasus BLBI yg justru membuat Indonesia berhutang sampe tahun 2033! Kejadiannya ga cuma di negara berkembang, di negara majupun sama aja. Kita tau kemaren pemerintah AS ngasih dana bailout sebesar $ 700M buat menyelamatkan industri otomotif, khususnya pabrikan General Motor, namun yg ada sebulan kemudian GM justru makin mendekati kolaps. Jadi kesannya pihak-pihak yg mendapat dana bantuan malah jadi manja, dan efek lainnya tentu perusahaan-perusahaan yg juga terancam krisis akan membiarkan krisis terjadi, toh nanti akan dibantu pemerintah juga...
Hal inilah kayaknya yg perlu dipikirin lagi oleh pemerintah, apalagi buat menkeu sri mulyani agar bisa kembali dipercaya buat memimpin depkeu 5 tahun kedepan. Performa beliau yg slama ini bagus malah rusak di akhir masa jabatan gara2 teledor mengeluarkan dana masyarakat sebesar Rp 6.7 T untuk hal yg ga urgent dg kondisi bangsa saat ini. Ingat Buk, Rp 6.7 T itu gede, sangat berfaedah jika digunain buat bangun sekolah, apalagi kalo dibeliin ke es duren, semua penduduk Indonesia bisa kebagian lho... (duh, lupa kalo lagi puasa, mikirnya es mulu..hehe)
Kamis, 27 Agustus 2009
Zzzz... Zzzzzz......
Halo semua … ^_^
Bagaimana puasanya? Gimana kalo sambil nungguin bedug buka kita ngabuburit dulu sambil ngemil korma en minum the botol? Seru kan? Hehe, ga usah diikutin, mending melakukan sesuatu yg berguna biar dapet pahala, bahkan tidur di bulan Ramadhan pun dinilai ibadah lho…
Ngomong-ngomong tentang tidur, gw lagi bermasalah dg pola tidur gw. Gw ga tau apa ada istilah medis untuk gangguan tidur yg gw alami ato nggak, tapi gw sebut aja nama gangguannya ‘kontra-insomnia’. Gw sebut kontra-insomnia karna kalo penderita insomnia kesulitan tidur, gw malah terlalu gampang untuk tidur! Walah… dan waktunya itu lho, kebangetan. Gw bisa tidur lebih awal dari waktu tidur normal dan kemudian bangun lebih telat. Itu juga diluar tidur siang gw. Bahkan dulu pernah pas pulang kuliah gw tidur di bis trus dibangunin sama kernetnya “dek, dek, mo turun dimana? Ini udah nyampe, kita udah mo muter balik..” ampun dah…
Dulu gw sempet baca artikel yg bilangin kalo tidur itu yg penting bukan kuantitas ato jumlah jam tidur, tapi kualitasnya. Di artikel laen juga ada yg bilang bahwa kebutuhan tidur seseorang ntu berbeda-beda. Ada yang 4 jam sehari aja udah cukup, ada juga yg udah lebih 9 jam masih aja ngantuk. Dan gw termasuk contoh yg kedua. Kalo seandainya ada lomba tidur di acara 17-an, mungkin gw bisa ikut, bahkan bisa aja jadi pemenangnya. Ato temen2 pernah nonton salah satu episode Doraemon dimana Nobita menjadikan tidur sebagai tolok ukur ke-keren-an seseorang, semakin gampang tidur, smakin terpandang di masyarakat, bahkan waktu itu Nobita ngebikin Hari Tidur Nasional. Haha… gw berharap kalo emang bener kejadian…
Setelah dipikir-pikir, bener juga kalo kebanyakan tidur itu menghambat produktivitas. Ga hanya karna jatah waktu yg berkurang, tapi tubuh juga ga sehat jadinya, males gerak, males mikir, bawaannya laper mulu, yg dikangenin cuman kasur (selain behelorens). Hhhh.. gw jadi iri dg penderita insomnia, nggak nggak, gw tarik ucapan gw. Karna salah satu Tokoh Insomnia Dunia, Michael Jackson, telah mencontohkan pada kita semua bahwa insomnia itu ga baik. Niat awal cuman pengen bisa tidur barang sejam-dua jam, eh malah ketiduran untuk seterusnya… gak, gak, gw ga mau insomnia juga.
Gw cuman pengen bisa tidur normal, tidur tepat waktu trus subuh udah bangun. Dan momentum Ramadhan ini gw coba jadiin ajang latihan buat ngelatih pola tidur gw, dan dari seminggu puasa yg udah gw lewatin hasilnya antara lain:
-melewatkan satu sholat isya en tarweh di masjid karna ketiduran habis berbuka (kekenyangan keknya,haha)
-hampir melewatkan tiga kali sahur karna baru bangun 15 menit sebelon imsak
-kalo yg ini tiap hari slama seminggu ini: bangun lagi pas tidur sehabis solat subuh baru jam 11 siang, paling cepet jam 9!
Waktu kemaren gw konsultasiin sama kakak gw, dia ngasih pendapat bijaksana yg menyejukkan rongga di kalbu: “Ah, itu emang dasar kamunya aja pemalas kayak kebo…”
T_T
Bagaimana puasanya? Gimana kalo sambil nungguin bedug buka kita ngabuburit dulu sambil ngemil korma en minum the botol? Seru kan? Hehe, ga usah diikutin, mending melakukan sesuatu yg berguna biar dapet pahala, bahkan tidur di bulan Ramadhan pun dinilai ibadah lho…
Ngomong-ngomong tentang tidur, gw lagi bermasalah dg pola tidur gw. Gw ga tau apa ada istilah medis untuk gangguan tidur yg gw alami ato nggak, tapi gw sebut aja nama gangguannya ‘kontra-insomnia’. Gw sebut kontra-insomnia karna kalo penderita insomnia kesulitan tidur, gw malah terlalu gampang untuk tidur! Walah… dan waktunya itu lho, kebangetan. Gw bisa tidur lebih awal dari waktu tidur normal dan kemudian bangun lebih telat. Itu juga diluar tidur siang gw. Bahkan dulu pernah pas pulang kuliah gw tidur di bis trus dibangunin sama kernetnya “dek, dek, mo turun dimana? Ini udah nyampe, kita udah mo muter balik..” ampun dah…
Dulu gw sempet baca artikel yg bilangin kalo tidur itu yg penting bukan kuantitas ato jumlah jam tidur, tapi kualitasnya. Di artikel laen juga ada yg bilang bahwa kebutuhan tidur seseorang ntu berbeda-beda. Ada yang 4 jam sehari aja udah cukup, ada juga yg udah lebih 9 jam masih aja ngantuk. Dan gw termasuk contoh yg kedua. Kalo seandainya ada lomba tidur di acara 17-an, mungkin gw bisa ikut, bahkan bisa aja jadi pemenangnya. Ato temen2 pernah nonton salah satu episode Doraemon dimana Nobita menjadikan tidur sebagai tolok ukur ke-keren-an seseorang, semakin gampang tidur, smakin terpandang di masyarakat, bahkan waktu itu Nobita ngebikin Hari Tidur Nasional. Haha… gw berharap kalo emang bener kejadian…
Setelah dipikir-pikir, bener juga kalo kebanyakan tidur itu menghambat produktivitas. Ga hanya karna jatah waktu yg berkurang, tapi tubuh juga ga sehat jadinya, males gerak, males mikir, bawaannya laper mulu, yg dikangenin cuman kasur (selain behelorens). Hhhh.. gw jadi iri dg penderita insomnia, nggak nggak, gw tarik ucapan gw. Karna salah satu Tokoh Insomnia Dunia, Michael Jackson, telah mencontohkan pada kita semua bahwa insomnia itu ga baik. Niat awal cuman pengen bisa tidur barang sejam-dua jam, eh malah ketiduran untuk seterusnya… gak, gak, gw ga mau insomnia juga.
Gw cuman pengen bisa tidur normal, tidur tepat waktu trus subuh udah bangun. Dan momentum Ramadhan ini gw coba jadiin ajang latihan buat ngelatih pola tidur gw, dan dari seminggu puasa yg udah gw lewatin hasilnya antara lain:
-melewatkan satu sholat isya en tarweh di masjid karna ketiduran habis berbuka (kekenyangan keknya,haha)
-hampir melewatkan tiga kali sahur karna baru bangun 15 menit sebelon imsak
-kalo yg ini tiap hari slama seminggu ini: bangun lagi pas tidur sehabis solat subuh baru jam 11 siang, paling cepet jam 9!
Waktu kemaren gw konsultasiin sama kakak gw, dia ngasih pendapat bijaksana yg menyejukkan rongga di kalbu: “Ah, itu emang dasar kamunya aja pemalas kayak kebo…”
T_T
Langgan:
Entri (Atom)



