Home Made Es Krim Pondok

Hampir 20 tahun, sampai 2006, Ibu saya ngajar di kampus STISIP yang ada di Pondok, setelah kemudiannya beliau pindah ke UBH Ulak Karang.

Dari kecilnya, sering lah saya di ajak ke pondok itu, sementara ibu ngajar, saya pergi main. Sampai pas bisa nyetir waktu SMA ya jadi nya antar jemput. Btw, itu Pondok itu nama kawasannya, bukan pondok dalam artian gubuk. Kawasan pecinan yang dekat dengan Muaro, tempat kapal-kapal berlabuh, yang menjadi tonggak awal berdirinya Kota Padang. 

Maka kawasan Pondok juga sekaligus telah berinfiltrasi pula dengan para keturunan pedagang-pedagang India. Jadi kalau ke Pondok itu bakalan banyak ketemu macam etnis kita, mayoritas TiongHwa, Melayu, India, dll. How nice. 


Dari sering main-main ke sana saya bisa jadi banyak ngerasain bermacam kulineran legendaris. Di Padang, memang sudah mulai banyak tempat makan yang asoy, tapi Tuan, lebih separuh kulineran di Padang itu berpusat di Pondok ini. 

Kalau di Padang kota mungkin lebih banyak tempat makan dengan desain bangunan maupun variasi menu yang baru-baru, sedangkan di Pondok bertahan dengan menu-menu lama dan bangunan-bangunan kuno nya. Mirip suasananya dengan kawasan Sunda Kelapa Batavia kali.

Singkat cerita Tuan, karena saking banyaknya tempat jualan makanan n minuman di sana, yang paling berkesan bagi saya dua: Es Durian "Ganti nan Lamo" dan Es Krim Kiloan.

Es Durian itu mah tau lah banyak yang doyan, dan lagipun cukup populer dan ramai terus. Sampai sekarang. Letaknya jualannya pun pas di persimpangan.

Tapi untuk Es Krim Kiloan Pondok ini, rasanya jarang yang tau. Maksudnya kalau dari target marketnya, dunia marketing menyebutnya sebagai niche market, atau pasar ceruk. Pasarnya khusus dan tersendiri. Jadi memang yang doyan eskrim banyak, tapi yang doyan eskrim seperti itu segelintir aja.


Dibilang nggak laku keknya nggak mungkin juga. Tokonya ada di ujung sempit sebuah gang deket Klenteng, tersudut. Bertahan dengan hanya jualan eskrim 4 rasa saja, coklat, nangka, vanila, dan stroberi. Selama lebih dari 20 tahun!

Dibilang lebih dari duapuluh tahun karena sejak saya belon masuk sekolah ibu sudah sering bawain eskrim itu pulang, sampai terakhir di tahun 2008 saya beli eskrim di sana.

Tahun 2009 Padang kena gempa besar. Bangunan-bangunan kuno di Pondok banyak yang ambruk. Toko jualan eskrim itu sih juga kena walau nggak parah. Cuman jelas membuat trauma sepertinya. Karena pada taun 2010 saya datang lagi pengen beli eskrim, orangnya deket sana bilang, "Wah udah pindah ke Jawa dek yang jualnya, ngungsi sejak gempa taun lalu."

Akhir kisah satu babak. Sedih.

Di kantor, tiap Kamis rutin futsal di Footy, di ujung gang klenteng, di sebrang tempat jualan eskrim dulu itu. Sampai kemudian, eh, kok ada yang jualan eskrim. Tampilan luar udah beda. Jualannya ada eskrim pabrikan juga. Selain juga perlengkapan komputer kecil-kecil.

Tapi tetep ada jualan es krim kiloan juga. Tapi eh tapi, varian rasa bertambah dari yang empat sebelumnya. Sekarang malah ada alpukat, blueberry, nanas, dan DUREN.

Curiga nih, karena saya inget dulunya tia beli eskrim di sana waktu ditanyain eskrim duren Nenek yang jual bilang nggak bikin eskrim duren karena kurang awet dan baunya menyengat sehingga bisa mengganggu rasa aroma eskrim lainnya. Hmm.

Saya tanya deh yang jual, bukan nenek-nenek yang biasanya, tapi kokoh yang mudaan. Katanya masih yang lama itu, buka lagi katanya.

Ok, percayaan saya mah. Cara packing, bungkus, dan tampilan eskrim memang nyata masih sama. Langsung beli. Kangen euy.

Nyampe rumah langsung ambil gelas dan sendok. Jajal ntu eskrim.
...
...
...
Ntar, kok rasanya beda. Nggak seperti dulu-dulu itu lah. Apa lidah bisa berubah dalam hitungan tahun sehingga sebenernya rasa eskrim tetap sama tapi jadi beda di lidah?
Ah nggak lah. Ini memang rasa eskrim dan konturnya samasekali beda.

Ah kecewa juga.
Seneng juga. Karena sudah buka lagi toko jualan eskrim legendaris itu. Kecewa karena rasanya sudah nggak sama lagi. 

2 komentar:

fitria murmaida mengatakan...

itu alamtnya dimana sist ?

fitria murmaida mengatakan...

itu alamtnya dimana sist ?