Lalu kalau ga boleh cerita tentang trainingnya, cerita hasilnya saja boleh mungkin. Hasilnya penilaian dan pencapaian saya kacau, terrible. Hehee... 

Hasilnya didapati bahwa kata instrukturnya melalui mekanisme kuisioner, saya orang yang tertutup. Bah, itu mah saya juga tauuuu pakkkk... Ngapain itu kalau seminggu jauh-jauh cuma didapati hasil untuk tau saya begitu. Hasilnya juga didapati saya memiliki achievement yang rendah (iya sih yang ini), hasilnya juga didapati tipe leadership saya terlalu bebas (Pramoedya, Surayah Pidi, bagaimana ini?) namun tidak bisa menerima aspirasi tim.
Hasil macam apa kontradiktif begitu? Bebas tapi egois, begitu?

Hasilnya juga didapati bahwa setelah seminggu didorong untuk maju, hari Senin pertama di minggu ini saya mulai dengan datang terlambat 6 menit... Crap. 
Kan saya juga diwajibkan untuk mengikuti Achievment Motivation Training. Kata orang SDM dan senior-senior, bagi yang sudah mengikuti, dilarang keras untuk menyebarkan program trainingnya ke orang-orang lain. Karena kalau sudah tau sebelumnya, dikuatirkan nilai yang diperoleh peserta bisa jadi tidak riil lagi. 

Karena dilarang, yaudah, saya ga jadi ceritanya. 

Antisipasi Penipuan Lowongan Kerja 2

Sebagai mantan job hunter, terkait cerita yang sebelumnya, saya sedikit mau cerita pengalaman dan pendapat. Bagaimana agar dapat menghindari penipuan-penipuan lowongan kerja yang banyak beredar di internet. 

Langsung yak, 

1. Cross check ke web/telpon resmi perusahaan/instansi, 
Jangan ke web/no telpon yang tertera di undangan atau email yang ngundang kita itu. (Paling nggak tips ini berlaku untuk perusahaan yang sudah skala menengah dan besar. Kalau untuk perusahaan kecil skala lokal yang nggak punya web saya belum ketemu cara antisipasinya) 

Dari mana bisa mendapatkan link web resmi dan nomor telpon resmi perusahaan? Di google ada mah. Brosing jago, media sosial aktip, masa nyari itu aja ga bisa. 
Cross check bisa juga dilakukan dengan kenalan yang kita tau yang memang sudah bekerja di intansi tujuan. 

2. Perhatikan detail undangan. 
Kalau seandainya hanya berupa SMS/email, cek lagi sesuai poin 1 di atas. 
Kalau ada suratnya, lihat-lihat suratnya, ada sesuatu yang hasil crop-an nggak, ada logo yang janggal atau penempatannya yang nggak proporsional nggak? Ada penomoran dan penanggalan yang salah nggak? Alamat perusahaan dan alamat webnya bener nggak?
Deskripsi kerja nggak jelas, bidang usaha perusahaan yang diterangkan cocok nggak dengan aslinya?


3. Too good to be true
Waspada janji yang terlalu muluk. Tahapan tes sedikit, gaji besar yang sudah di-state dari awal, penggantian biaya selama tes, bonus-bonus ini itu. 
Memang, ada perusahaan-perusahaan yang memang ngasih itu semua, tapi nggak pernah ada perusahaan yang segamblang itu menjabarkan di awal, apalagi masih pada tahap tes dan disampaikan tidak dengan cara tatap muka langsung.  

Kalau antisipasinya itu dulu, Insyaallah ntar kalau keinget ada tambahan, saya tambahin deh. 







Antisipasi Penipuan Lowongan Kerja 1

Minggu lalu,  ada beberapa rekan menanyai saya, terkait adanya ini. Wah, pakai domain email sendiri, nggak pakai yang gratisan, modal juga penipunya. Tapi tetap aja, saya jawab langsung itu boongan. Karna memang perusahaan tidak sedang membuka lowongan untuk itu. 

Sore kemarin, ada temen yang nelpon lagi, katanya, dia dapat undangan, "Undangannya pakai kop resmi rif. Disuruh interview hari Rabu di Gresik." Kaget juga, "Coba kirimin ke saya dulu itu suratnya, tapi dari sekarang aja bilang, ga usah diladeni."

"Kenapa? Saya tadi juga udah nelpon kontak yang disurat itu, katanya bener rif..." Temen saya penasaran. 
"Kirimin dulu aja emailnya, ntar saya jawab mana yang salah."

Email masuk, ada link pdf-nya. Saya donlot, ada lima halaman surat undangan untuk menghadiri interview di Gresik. Suratnya pakai kop dan logo, tapi kop dari perusahaan/grup nggak seperti itu. Logonya juga logo lama. Nomor surat aneh, nama departemen mengada-ada, janji muluk, NIP aneh, tatabahasa kacau, bahasa inggris ngaco. 

Saya cek nama kontak person di sistem karyawan grup, kan, nggak adaaa... Dan banyak hal lainnya yang dapat terlihat jelas palsu-sepalsunya. 
Termasuk juga inti dari penipuan itu adanya instruksi untuk melakukan reservasi tiket ke agen travel tertentu untuk keberangkatan ke Gresik, dimana katanya ntar bakalan direimburse. 

Saya telpon balik temen tadi, jelasin kondisi bagaimana-bagaimananya. Alhamdulillah dimengerti, dia juga cerita, ada juga temennya, yang juga dapat surat itu, udah hampir transfer ke tour travel kampret itu. Di FB, temen cerita ada malah yang udah terlanjur treansfer jutaan, tiket yang ditunggu ga datang-datang... Masya Allah.  Naudzubillah...   



Ini sebelum pulang, sedikit berita ini.

Iya, beliau orang hebat.
Tapi mungkin anggapan karyawan SI berbeda seperti karena ini.

Tentu orang-orang minang juga akan mengingat perjuangan menyakitkan sekira satu dasawasa lalu terkait spin-off SP. Beliau, juga dinilai termasuk tokoh yang memperkeruh suasana. Entah, 10 tahun lalu saya masih SMA dan belum tau apa.

Tanggal Penting

Bulan April, saya memposting ini.
Hari pertama saya telat sejak mulai kerja disini pada September tahun sebelumnya.
Ini, hari ini juga jadi sebuah tanggal penting.
Pertama kalinya di bulan ini saya bisa datang nggak terlambat.
Yeahhh...
Bagaimana bisa saya, begini sih caranya.



Jika aku kotak makan, bagaimana bisa kenyang, roti isi sebentar hilang.
Jika aku glue stick, bagaimana bisa lelap asik, jika materai tiap sebentar berisik.
Atau mungkin jika aku kabel data, aku akan gembira, iseng menghantam port yang menganga. 
Tapi aku pena biru, ah, yang salah andai merah.
O tapi aku pena biru, yang kelam jikalau hitam.

Padang, 
Pena Biru 

Itu kira-kira puisi curhatan hati pena biru, setelah tragedi ceceran tinta biru di kantor yang menyebabkan dia mendapat cerca dari saya. Bikin kotor saya punya baju, bikin rusak saya punya dokumen, bikin bernoda saya punya laptop.

Saya bisa apa kepada si Pena Biru, sudah bikin masalah, puisi yang dibuatnya juga jelek begitu. 

Minangkabau Jazz Night

Awalnya adalah iklan di radio tentang akan adanya Minangkabau Jazz Night di UPI Hall pada 25 Oktober lalu. “Kak sis,. Ada jatah karcis ndak? Mau dong kak..” saya coba lobi kak siska yang di humas, berhubung perusahaan kami ada turut jadi sponsor. “Tungguin aja rif, ini lagi pada diedarin ke ibu-ibu/istri staf sini, kalau ntar ada sisanya, dikabarin deh, harga karcisnya rentang 50ribu sampai 300ribu.”

Lhaa.., kudu beli ternyata, mahalpun.

Dua  minggu sebelum berangkat, saya sudah mulai-mulai denger lagu-lagu popular minang, persiapan laa… Biar pas datang acaranya saya ndak mlongo mlongo aja. Biar nanti juga saya beli tiket jadinya gak rugi. Iya, beli tiket ntar mahal-mahal, lagunya  kagak apal.

Seminggu sebelum acaranya, saya dapat rundown dan pengisi acara, ada Ellly kasim, the legend, tapi kok, band-nya cuma satu Rynd band aja, tapi kok ada pakai host pula, si arzeti bliblina.com he,  tapi kok ada fashion show nya juga. Jelas ini berbeda dengan konsep java jazz dan nga jogjazz yang di jawa sana.

“Rif, ada nih karcisnya, yang 200ribu.” Ntah karena kecewa dengan rundown, entah karena akhir bulan, niat nonton jadi berkurang.

Besoknya pas acara, sore, kak siska ngabarin lagi, “Rif jadinya gimana? Ini kebetulan aku dapet satu yang dari panitia. Gratis tuh… Kalau iya, buru konfirm.” Karna si Rahmat juga ga jadi bisa pergi, karna hujan, karna capek siangnya keluar, karna malamnya juga akan ada pertandingan arsenal saya, yang dilanjutkan el clasico Madrid saya, jadinya saya bilang nggak. Ridho saya mah, iklas lillaahi taala. 

Eh tapi, “kak kalau ada yang jualin CD album dari bandnya, titip beli deh kak.” “Oke rif…” “Terima kasih kakak.” Iya, dari penelusuran saya, si Rynd band ini juga bikin album yang merecycle lagu-lagu minang popular. Dengan konsep acara seperti itu, pastilah juga dijadikan momen untk jualan. Kalau di Jakarta, berhubung rynd ini markasnya di sana, cd album mereka pada dijualin di ruah makan-rumah makan sana. 

Sebelumnya, dari soundcloud, memang saya akui lagu-lagunya itu bagus. Aransemennya bisa mengajak orang yang nggak terlalu suka kagu tradisional sebelumnya, untuk kemudian suka.

Lagu-lagu yang dibawakan rynd band ini ada beberapa yang sudah saya kenal dan menjadi bagus ketika dibawakan, ada yang saya nggak tau, padahal menurut cerita itu lagu pada zamannya sangat popular. Secara keseluruhan, saya puas dengan 2 volume CD album minang jazz dari rynd band tersebut. 

Aransmen musiknya bagus, kualitas recordingnya juga sangat bersih, meskipun direkam di studio mereka sendiri. Perpaduan instrument jazz dengan alunan alat music tradisional minang seperti saluang itu gimana ya, blended, nyatu, nggak tumpang tindih dan jauh dari kesan dipaksakan untuk digabung. Di Jawa, sudah ada Bossanova yang membawakan lagu-lagu jawa dengan kualitas serupa.

Palingan sih, sedikit saya ada kecewa dengan lagu Bareh Solok. Ekspektasi saya lagunya itu akan dibawakan nge-beat, yang memang cocok dengan lagunya seperti lagu Bugih Lamo. Tetapi ini dibawakan dengan lantunan music rendah dan pelan. Antiklimaks untuk bareh soloknya.

Tapi biarlah, 95ribu, 2 cd album, music bagus, cukup memuaskan, apalagi diputer saat jalan pulang kampung kayak wiken kemarin.

Luak (2)

Ada juga sih Luak yang tidak dikhususkan untuk gender tertentu, tapi hanya ditujukan untuk mencuci, karena agak terbuka tempatnya. Ada juga mungkin beberapa orang yang disebabkan Luaknya penuh, dan buru-buru, tetap nekat mandi disana. Hal-hal seperti itu risikonya ya tanggung sendiri.

Di dekat masing-masing luak, dibuatkan sebuah gubuk atau semacam ruangan, seukuran surau kecil, bisa untuk salin pakaian, bisa untuk solat, bisa untuk nggosip sambil nunggu antrian mandi.

Sampai awal dekade 2000an, mandi di Luak itu masih hal yang wajar, dan seru. Antara jam 7-9 pagi itu, rame bener yang mandi, kadang-kadang ketemu ular sebagai selingan L. Sorenya selepas ashar, Luaknya rame lagi.

Sekarang hampir semua rumah sudah berkamar mandi. Hampir semua rumah ber jet-pump. Hampir semua rumah telah disentuh oleh PDAM. Sehingga warga yang mandi ke Luak ini tidak lagi seberapa dan untuk kondisi-kondisi tertentu saja.

Kalau kita beregois untuk menyayangkan berkurangnya tradisi unik seperti itu, sayang sama saudara-saudara kita yang disana. Apa Tuan sanggup tiap hari jalan beratus meter untuk mandi, pulangnya harus mendaki sekitar 50an anak tangga, jalan lagi ke rumah. Nyampe rumah keringetan lagi. Atau pas habis dari Luak sudah langsung berganti sama baju sekolah, tau-tau di jalan pulang itu tetiba hujan deras.

Apa nyonya sanggup, bawa beban cucian yang kalau berangkat sih iya, menurun, ringan pula. Tapi pas pulangnya, bawa cucian yang sudah basah, bertambah berat oleh air yang masih lekat di kain, mendaki pula puluhan anak tangga untuk pulang? Sanggup? sanggup? Belum lagi kalau bawa anak yang masih kecil dan rewel, kalau tak sabar-sabar, bisa saja gelap mata dan tendang itu anak ke jurang bawah sana. Hahaha.

Tapi mungkin juga itu yang membuat dulu warga Sungayang tangguh dan kompak, kalau generasi sekarang gimana ya?

Untuk saya pribadi pun, ada juga bagusnya rumah-rumah di Sungayang sekarang ini sudah berkamar mandi. Lebih private iya, meski sebagai orang yang malas mandi, ada alasan saya yang lain yang lebih penting dari itu: bagaimana mungkin kita harus mandi dengan sumber mata air langsung yang sangat dingin itu? Bukankah bunuh diri adalah sebuah tindakan yang sangat dilarang oleh agama?

Kalau harus mandi di luak itu, karena rame, akan ketauan siapa yang hanya datang dan kemudian nggak mandi, jadilah saya mengikuti prosesi bunuh diri masal itu. Tetapi kok mereka biasa aja ya? Heran. Kurang beriman nih…

Nah kalau dengan sistem kamar mandi di rumah, kita cukup masuk, dan ketika keluar nggak ada yang tau apakah kita beneran mandi di dalemnya atau nggak. Heee…

Iya, akan ada masanya saya kira kemudian benar-benar nggak akan ada warga yang mandi ke sana lagi dan tempatnya kemudian hanya jadi sarang belukar. Maka sebelum itu benar-benar terjadi, biar sedikit saya dokumentasikan untuk dikenang-kenang.




Luak

Sebelum nantinya akan benar-benar punah, saya ingin sempatkan dulu menulis tentang sebuah gaya hidup untuk mandi dan mencuci di Sungayang.

Dahulunya, memiliki kamar mandi di rumah, adalah suatu hal yang mewah, akan halnya memiliki televisi dan antene parabola, seperti ha lnya berkompor gas dan dapur berlantai marmer.

Maka diluar hal mewah itu, mayoritas masyarakat akan memiliki kesamaan pola budaya untuk mandi, yaitu mandi ke pemandian masyarakat. Terkhusus untuk warga yang di Kampuang Tangah, Jorong Duo, pemandian umum yang tersedia berada sedikit ke daerah bawah, kawasan Sadio namanya (untuk nama Sadio ini --yang diambil dari nama seorang datuak-- mungkin akan diceritakan tersendiri nantinya, dikesempatan bercerita horror, iya).  

Pemandian ini dalam bahasa kampung kami bernama LUAK. Atau juga Luhak. Luhak ini, kalau saya artikan secara bebas adalah tempat mata air. Iya, memang bersumber mata air asli. Mata air itu, di Sadio, tersebar di beberapa titik, jaraknya lumayan berdekatan masing-masing. Luak di Sadio ini memang daerahnya agak kerendahan. Kita harus turun sekitar 40an-50an anak tangga. Disekitarnya ada pohon-pohon kelapa, durian, dan kolam-kolam ikan.

Sumber mata air jernih tadi, kemudian ‘dikolamkan’, atau dibuatkan baknya. Untuk di daerah Minang, kampung ayah saya, karena sumber mata airnya besar dan memiliki debit air banyak, memang dibuatkan kolam besar untuk dapat mandi sekalian berenang. Dan memang daerahnya itu lumayan terbuka.

Di kampung saya ini, hanya dijadikan semacam sebuah bak besar yang terhampar. Dan sumber mata air itu benar-benar di alam kalau saya bilang. Penutup-penutupnya rata-rata dibuatkan oleh alam, pohon-pohon besar, semak belukar, dll.

Dipinggirnya dibuatlah tempat orang untuk duduk, untuk jongkok berjejer. Sekitar untuk 3-4 orang. Ya mandi, ya mencuci, ya gosok gigi, ya berwudhu.

Karena syukurnya ada beberapa sumber mata air, dan adanya pikiran-pikiran jorok saya perlunya dipisahkan secara mahram, dibuatlah Luak untuk masing-masing gender. Luak laki-laki ya khusus laki-laki, disana mandinya sebatas pakai cangcut. Tapi di Luak untuk perempuan, terpisah sekitar 20-30 meter, sayangnya nggak LL. Mereka di sana melilitkan sarung/kain untuk jadi penutup. Kayak kemben. Kok saya bisa tau? Iya, muehehee…

Kalau untuk buang hajat, dibuatkan jambannya, lumayan banyak, deket-deket sana juga. Dibuatkan di tempat air mengalir, ditutupkan dengan seng/tembok batu/pelepah kelapa. Atapnya langit. Seru kan? Sebuah toilet natural dengan flush system 24 jam.

Ada juga sih Luak yang tidak dikhususkan untuk gender tertentu, tapi hanya ditujukan untuk mencuci, karena agak terbuka tempatnya. Ada juga mungkin beberapa orang yang disebabkan Luaknya penuh, dan buru-buru, tetap nekat mandi disana. Hal-hal seperti itu risikonya ya tanggung sendiri.

Monday's Naming History

Pada awalnya, tetua-tetua di Britania Raya dulu itu hanya menamakan hari minggu saja dengan secara spesifik dengan dasar tertentu. Sunday. Hari cerah yang bermatahari. Nama-nama hari lainnya nggak dipikirkan, dibuat secara asal tanpa ada pertimbangan tertentu. "Ih, buat apaan mikir nama hari lain selain sunday itu." Kata mereka. "Bastard, we dont need another day except sunday. Even every day must be Sunday!" Disambut sama yang lain.

Dulu-dulunya mereka kerja ya kerja aja. Bercocok tanam, angkat barang di pelabuhan, menjadi klerk mengetik surat-surat, mencetak surat kabar, sore minum teh, malem ke bar. 

Sampai kemudian tuntutan industri membuat tetua-tetua Brits dulu itu harus bekerja lebih berat. Setalah hari Minggu, Sunday itu, masuk kerja itu adalah hal yang sangat-sangat tidak mereka sukai lagi. Bekerja bukan lagi untuk mengisi waktu, tapi sebagai tekanan. 

Sehingga seringlah mereka mengumpat, iya, macam kita sekarang. "Monyet, udah harus masuk kerja lagi". Nah, mereka juga, "Monkey, what a bloody hell...bollocks. It's a monkey day." 

Dan itulah kemudian asal-usul hari Senin itu disebut Monday dalam bahasa inggris. 


Disclaimer: The story above just a ficton. Don't put trust on it. Hahahaaa...
Kemudian, di Rabu pagi di parkiran belakang kantor pusat, yang ikut senam itu bukan lagi hanya untuk karyawan dan masyarakat sekitar sesiapa yang mau dan bisa aja. Sekarang, kabarnya sudah diwajibkan bagi keseluruhan karyawan area kantor pusat dan unit-unit lainnya (kecuali kantor Proyek, yang juga menyelenggarakan senam pagi sendiri).

Iya, beberapa bulan belakangan, banyak sudah yang berpulang, mendadak begitu saja di sela aktifitas keseharian, bahkan termasuk saat kerja di kantor pabrik, bahkan juga pimpinan tertinggi di kompani ini. Belum lagi yang disebabkan hal-hal lainnya.

Tapi memang, yang jadi fokus itu sepertinya karena adanya yang mendadak-mendadak begitu itu. Ada sedikit kecemasan bahwa aktivitas disini yang terlalu sibuk, banyak yang kurang bisa melakukan aktivitas olahraga untuk kesehatan. 

Ngeri. 

Resep Brownies Coklat Lezat

Terus, apa karena Tuan bisa masak kue bronis coklat, yang enak, Tuan kira saya tak bisa sama?
Halaahhh... Apanya yang rumit dari itu?

Begini Tuan, jikalau Tuan ada minat, baiklah ini saya share resep cara mendapatkan kue bronis yang enak begitu.

Bahan:
* Bensin
* Sepeda motor atau mobil
* Duit 50 ribu

Cara membuat:
Untuk membuat bronis, tambahkan bensin ke dalam kendaraan. Buka pagar, nyalakan kendaraan yang sudah diisi bensin, jalankan kendaraan ke D*rry Brownies. Lakukan transaksi, pilih bronis kesukaan sesuai selera. Kembali pulang.


Voilaaaa... Bronis coklat yang lezat siap disantap.

Itu tips pembuatan bronis dari saya. Mudah dan praktis.
Selamat mencoba.

Buktinya, minggu pagi kemarin saya juga sama banyak tiduran saja. Nonton kartun, nonton berita. Ada berita video anak sd di bukittinggi, rame-rame mukulin temen sekelas mereka, cewek, dan nggak ada satu diantara yang melerai. 
Ngeri, pada kenapa itu bocah? Liar begitu. Di Sumatera Barat pula. 

Tapi, terlepas bahwa itu adalah anarkis, dan kejam, dan bahwa memang kenyataannya begitu, rasanya ini saya mau menebak-nebak, kenapa teman-temannya korban tadi, rame-rame membully dia, dan ndak satupun mencoba membela. 

Mungkin, mungkin saja, si korban bully ini memang sudah sedari dulunya suka bikin kesal teman-temannya sekelas itu. Ada kan yang seperti itu kita temui semasa sekolah atau di lingkungan kerja? Sejenis public enemy gitu. Tiap apa yang dilakukannya itu bukan hanya bikin kesal seorang dua, tapi mayoritas orang dilingkungannya.

Ketika sudah memuncak, dan ada momen, pecahlah kesal itu. 

Cuma ya itu bedanya dengan video tadi, yang paling ringan sanksinya ya dikucilkan begitu ya? Sanksi sosial lah. Atau disidang rame-rame. 

Tapi itu video, pake fisik. Itulah nanti kesalahan holistik pendidikan di rumah, di sekolah, di tontonan, di permainan, di pergaulan. 

Karena dulu, kalaupun ada temen yang bikin kesel begitu, tak pernah saya dan kawan-kawan mukulin rame-rame, cewek pula. Kan harusnya disayang. ^_^

Ada, maksudnya, iya, bukan nggak pernah ada, ada, tapi kalau cewek itu memang nggak pernah. Cewek yang bikin kesel ya diselesein pula sama temen cewek. Yang cowok mah ada beberapa kali, Karena saya dulu pemberani, beraninya rame-rame maksudnya, beraninya sama yang kecil juga. Haha.  

Biasanya, kalau sudah bikin kesel banget, kita rencanain momennya, kita tentukan lokasinya. Nanti kita ajak teman yang ngeselin itu, ke musola sekolah kah (sepi, karena jarang yang ibadah kesana kan?),  ke toiletkah pas istirahat atau pulang. Disana kita rame-rame beri pengertian ke temen yang ngeselin itu. Pengertian melalui makian. Kalau melawan, ya dengan gebukan. 

Biasanya, biasanya, kalau sudah begitu, temen-temen yang ngeselin itu akan mengerti dengan sendirinya, hee. 

Selain membully, saya bukannya nggak pernah dibully juga, He. Ada waktu baru pindahan rumah. Perlu saya beri tau sebelumnya, pendiam itu beda dengan sombong ya. Itu yang kebanyakan orang masih melihat yang kasat dari mata. 

Saya dihadang main sepeda, dikasih pengertian lewat makian saya melawan, dikasih pengertian lewat gebukan, ternyata dari yang rame itu yang mau gebukin cuma sendiri, temen-temen yang lainnya mah tau saya pemberani, beraninya rame-rame tadi maksudnya, he. Paham konsekuensi sepertinya mereka. Yang sendiri tadi jadi paham kondisi karena teman-temannya paham konsekuensi. Jadilah cuma begitu saja. Haha.

Cuma sd smp sih saya begitu-begitu. Sma dan kuliah sudah hidup tenang lagi saja.

Iya, Tuan yang sekarang jadi guru, rasanya perlu juga Tuan belajar memahami situasi kelas. Tau bagaimana atmosfer pergaulan dan politisisasi di dalam sana. Mana yang lugas, mana yang culas. Mana yang pemalas, mana yang suka main terabas.  Yang seperti-seperti itu, menentang dari arus pergaulan, harus bisa didekati secara personal. Harus bisa diberi pengertian, sebelum teman-temannya yang bikin tindakan.


Sejarah Hari Raya Kurban

Ini sudah pada hari yang ketiga. Ayah kembali dengan resah menceritakan kepada Ibu dan saya, berkaitan dengan mimpinya yang selalu mengiringi tidurnya. Tiga hari berturut-turut! Mimpi yang sama. Maka cerita ayah hari ini tentulah juga sama dengan ceritanya kemarin, dan kemarin lusanya juga.

“Hhhh… Keluargaku, ini sudah yang ketiga kalinya dalam tiga hari ini, semalam aku tidur, masih dengan mimpi yang sama. Bahwa ada suara yang memerintahkan aku untuk melakukan sesuatu hal yang sangat berat untuk aku lakukan, tapi harus karena ini akan menjadi bukti taatku atas perintah Illaahirabbi.” Suaranya yang berat dan tertahan cukup jelas juga menggambarkan beratnya beliau punya pikiran dan menceritakannya.

Ibu, seperti kemarin ayah cerita, juga menangis kembali mendengar cerita ayah itu. Oh ibu. Tentulah berat untuknya, aku dititipkan Allah kepada beliau setelah beliau tua. Puluhan tahun menantikan kehadiran anak. Dan sekarang Allah kembali memintanya dengan cara yang, ah, tentu sebagai manusia yang bukan siapa-siapa, kita bilang kejam.

 “Aku dengan sangat meyakini dari dalam hati, bahwa itu adalah kehendak Allah, Ismail, betapapun itu terdengar kejam, aku..aku harus menyemblih anak kandungku sendiri. Haruskah aku sekali ini, sekaliiii ini untuk tidak menuruti perintah-Nya?” Ayah melanjutkan keluh kesahnya. Sendu ibu semakin menjadi-jadi.

Entahlah Tuan, meski ayah sedang merasai beban yang sangat berat, ibu mengalami beban mental yang sangat kuat, entah kenapa, saya merasa sangat tenang saat itu. Rasa tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam kondisi itu. Padahal ujung solusi dari beratnya beban ayah dan kesedihan ibu, tak lain adalah binasanya saya dari dunia. Ya, memang manusia semua ini akan binasa, tetapi, dipenggal, oleh ayah kandung sendiri, dengan sebuah kesengajaan yang meski beralasan, saya harusnya saat itu punya banyak alasan untuk menentang. Tapi nggak, saya tenang.

Pada cerita ayah yang dua kali sebelumnya, saya sudah menyampaikan agar ayah menguatkan hati melaksanakan perintah itu dan menyabarkan hati Ibu. Ini juga rasanya saya yang mesti turut menguatkan hati ayah. Tidak usah pikirkan saya. Apa yang mesti ditakutkan? Apa yang mesti diragukan dari perintah itu?

Saya ingat cerita ayah yang waktu dulu membabat habis semua kepala-kepala berhala dan hanya menyisakan satu kepala berhala besar. Apa ayah kemudian mendapat celaka? Tidak. Berhala-berhala itu tak punya kuasa terhadap ayah. Jangankan patung begitu, saya juga ingat ayah akan dibakar oleh raja lalim Namrud, apa ayah mendapat derita? Jangankan tewas, bahkan sedikit luka bakar pun tak dirasa oleh ayah.

Hal-hal serius dan menakjubkan seperti itu, lebih dari cukup untuk tidak meremehkan perintah yang didapat ayah melalui mimpi. Bisikan dari setan? Ah, tak akan mampu mereka itu memasuki alam tidur ayah.

“Ayah, saya mengerti. Segeralah ayah laksanakan perintah dari Allah. Tak elok kalau ditunda-tunda sedangkan ayah sudah sering beroleh instruksi. Tak usah kuatirkan aku, ayah melaksanakannya karena iman, akupun begitu. Aku meyakini bahwa Allah menaungi kita dan tidak ada sedikitpun keburukan dari perintah itu. Oh ibu, bersabarlah engkau, Bagaimanapun kita hanya makhluk-Nya. Banyak cara Allah untuk memulangkan kita kembali. Ini tak lain adalah salah satu dari cara tersebut.”

Saya rasa, keteguhan hati saya ini cukup membantu dan memantapkan hati ayah dan ibu. “Tapi ayah, saya hanya minta satu hal, tolonglah agar ayah menajamkan pisau yang akan ayah gunakan untuk menyemblih saya nantinya. Agar tak perih saya punya luka, tak sakit saya saat sekarat”

Hari yang ditentukan pun tiba. Itulah tanggal 10 Zulhijah. Ayah membawa  saya menjauh dari rumah. Tentulah bertujuan agar ibu tak menjadi sedih. Mata saya pun ditutup, tentulah agar pandangan terakhir mata saya bukan gambaran bagaimana ayah menghunuskan pisaunya ke leher saya. Sedikit ngilu juga itu saya bayangkan.

Tapi entah apa, saya merasa aneh. Tubuh saya serasa ringan, terasa melayang. Tubuh ini seperti mati rasa. Beginikah sekarat? Tapi tidak, saya rasakan sekarang saya berdiri, kesadaran tubuh saya mulai sangat pulih. Tak jadikah ayah menunaikan niatnya?

Saya buka kain pengikat kepala yang menutupi mata ini. Aneh, saya berdiri beberapa lagkah di belakang ayah. Beberapa langkah dari tempat saya dimana tadi rasanya masih terbaring. “Ayah,.” Saya menghampiri ayah yang sepertinya juga mendapati diri sama sedang bingung. Dari belakang  ayah saya bisa melihat, seekor domba telah bersimbah darah di lehernya, tepat dipembaringan saya tadinya.

Yang kemudian saya tau bahwa adalah betapa ayah langsung mengucapkan asma Allah, merasa haru, merasa syukur. Belakangan, saya tau, di Quran surat Ash Shafaat, bahwa semua rangkaian peristiwa itu adalah ujian dari Allah. Dan betapa bahagianya kami, di ayat 102-107nya itu disebutkan bahwa penggantian saya dengan domba itu adalah bentuk balasan dari Allah atas kesabaran kami terhadap ujian tadi.

Saya juga tau, agama Islam yang dibawa Muhammad SAW memerintahkan pelaksanaan kurban setiap tahunnya pada tanggal 10 Zluhijah itu. Tentu itu juga menjadi gambaran tentang ujian, tentang cobaan. Semoga umat Muahammmad dapat memaknainya seperti bagaimana kami memaknainya dahulu.

6 Zluhijah 1435 H
Ismail bin Ibrahim  
Banyaknya kejadian September ini, banyak hal, yang tak tergapai logika, bukannya membuat saya jadi banyak posting pula, malahan jadi tidak produktif untuk menulis. Harusnya iya, bisa banyak. Tapi justru semua itu menumpuk, saling himpit di pikiran. Tak tau mana yang harus dituang. Mana yang mesti dibuang. Mungkin di Oktober nanti bisa produktif lagi.
Hari pertama di minggu terakhir September 2014. Sudah tiga tahun saya ada berangkat kerja. Tapi rasanya baru kemarin ini pengalaman berangkat kerja paling absurd.

Sedan putih saya, Snowflake, rusak lagi (kayaknya saya perlu balik ke vendor lama untuk jasa serpis mobilnya). Motor, udah lama ga dipake dan diserpis. Seinget saya, setahun terakhir, sejak kerja di tempat yang sekaramg, baru 4x saya ada bawa itu motor. Riskan kalau tetiba pagi kemarin digeber ke kantor nan jauh dan bertrayek ekstrim itu.

Oke, di depan komplek ada tukang ojek. Jalan deh kesana. “Pak, ke Indarung dong..” Itu saya bikin tanya ke satu-satunya tukang ojek yang sedang ngaso. “Oh, sekian puluh ribu dek.” Bapaknya jawab. Bargaining powernya sedang bagus, Jadi aja gak bisa ditawar. Sabar aja saya bisa.

“Hayulah pak, tapi ada helem gak pak?”
“Oh ada dek, ntar sekalian di rumah aja. Ini biar ganti motor dulu…”
“Lhaa,, ganti motor? Pulang ke rumah bapak dulu gitu? Ngapain gitu pak?” Untuk Tuan tau, itulah jam 7 pagi. Setengah jam lagi jam masuk kantor, jarak rumah-kantor itu bisa sejam.
“Iya, bentar, ga jauh. Biar enakan bawanya, disono ngeri dek, berat jalurnya.”

Ngikut aja lah saya jadinya. Hanya sabar saya bisa. Nyampe bapak itu kerumahnya, yang iya searah jalan kantor. Yang iya dia ngeluarin motor vario barunya yang masih belum ada plat nomernya. Yang kemudian masukin motor supranya. Oke juga lah, bisa lebih stabil dan kencenglah paling nggak.

Tapi pas udah dinyalain, bapaknya ngomong dengan tenang, “dek, maaf.. maaf ya bentar aja. Orang rumah saya lagi keluar. Saya anter anak sekolah dulu ke depan. Deket aja. Bentaraja kok….”

“…”

Ada sekira 5 menitan saya nunggu, plongo aja kayak orang bego. Jam 7.15. Di daerah rumah entah dimana saya belum pernah kesana sebelumnya.


Bapaknya akhirnya balik, balik untuk kemudian anter saya ke kantor. Balik untuk merasa biasa saja sementara saya dibelakang hening menenangkan gejolak emosi, “saya timpuk dari belakang jangan, saya timpuk dari belakang jangan…”
Akibatnya, setelah dinas di Gresik, saya jadi bisa menyempatkan pelesir ke Bali sebelum pulang ke Padang. Mumpung Balinya sudah seujung pulau lagi.

Sebelumnya, di Surabaya, saya menjajal nasi rawon ‘setan’ yang diceriterakan terkenal dan enak. Iya, antrinya saja untuk dapat duduk itu lama sangat. Dan ketika sampai pada giliran, ternyata rasanya, menurut saya tidak sepadan dengan ramainya antrian itu. Bukan nggak enak, tapi dari ramenya yang antrinya itu, saya mengekspektasi rasa yang lebih, Ternyata biasa aja.

Paginya diajak sarapan nasi krawu, nasi apakah itu yang seperti nasi kucing di Jogja? Enak, tempatnya sederhana pun. Tapi dari harga saya agak kaget juga, cukup mahal untuk sarapan, untuk masakan jawa, untuk tempat yang sederhana. Biasanya sih nggak gitu.

Bali itu bagaimana? Ih masa saya cerita lagi, udah banyak itu yang bahas juga. Lagian saya juga liburannya paket ekspres sehari saja, 2 malam sehari.

Malam hari pertama, secara tak sengaja ketemu kawan-kawan di Pojok Bursa dulu, Erly dan Teja, yang ada acara team building di The Stone Kuta, sayanya nginep di Pop, eh deket aja rupanya. Tak disangka-sangka dan, dan mestinya kan saya juga ikut acara Team Building ituuuu..,

Hari Sabtunya, seharian saya dan temen saya habiskan keliling Bali bagian selatan. Sewa motor deket hotel, murah, 80ribu untuk 19 jam. Itu dalam mata uang rupiah, nggak tau lah kalau mata uang Venezuela berapa. Kami mesennya dari jam 9 pagi setempat sampai pukul 4 pagi besoknya.

Jadilah dari pagi itu sampai sorenya kami keliling tanjung benoa, nusa dua, uluwatu, dan mampir makan siang telat di jimbaran. Sorenya,baru ikutan jemur di pantai liat sunset kutang eh kuta. Ih kalau sunset aja mah di Padang juga banyak, Bedanya disini banyak bule, namanya juga pantai kutang eh kuta. Astagaaaa,, maaf, maaf, masih bersemayam panorama sana di saya punya pikiran. Hahhaaa…

Malemnya, pulang ke hotel, bebersih-mandi biar besok paginya nggak, sehingga ke bandara nggak telat-, solat, dan saya sempat tepar. Siang panas-panas seharian bikin saya dehidrasi, roboh sudah.

Sementara tidur, temen saya lanjut jalan keluar. Bangun-bangun jam 10 malam, temen masih diluar. Telpon, dimana bang? Oh, deket-deket pantai aja. Ingat belum makan, ingat juga sewa motor masih ada 6 jam berikutnya, langsung saya keluar juga. Cari makan, dapat kerang bakar yang enak, cari putar-putar, cari hura-hura. Astaga, duniaaa…

Dari pengalaman dan obrol-obrol dengan orang sana, bisa saya singkatkan tulisan ini, bahwa di Bali itu banyak, banyak sekali destinasi wisata, namun dengan suasana masing-masing. Jikalau Tuan senang bermain water sport, itulah benoa, jikalau Tuan suka pantai yang tenang dan indah, itu ada nusa dua, jikalau Tuan mau cari kesenian, budaya, dan kuliner khas bali, itu ada ubud, jikalau Tuan hendak liburan dengan suasana kehidupan malam ala Bali, itu ada legian di kutang (kan, salah lagi), jikalau Tuan suka adventure, bertandanglah ke gianyar.  


Entah menurut Tuan sama dengan rekan saya entah nggak, dia merasa betah dengan Bali dari pengalaman sehari itu, ingin dia untuk berlama-lama disana. Entah saya, Bali itu seperti red velvet yang creamy, enak, tapi cukup sedikit aja, kebanyakan jadi bikin eneg.  

Jual Jersey Bola Terbaru

Bagi Tuan yang mungkin sedang nyasar nyari kaos klub kesayangan, ini deh sayanya mau cerita dikit tentang jersey bola ini. Setahun dua taun belakangan, banyak banget kita nemu temen-temen atau spam yang pada jualin kaos kleb-kleb bola. 

Banyak yang jualin juga karena yang nyari juga banyak. Paling nggak, lebih rame dari satu dekade belakangan. Saya mah juga dulu esde esempe juga sama. Tiap taun beli kaos juventus yang paling apdet. Atau nggak sih ngumpulin merchandise dan poster-posternya, termasuk juga arsenal dan real madrid. 

Tapinya sekarang, kok rasa-rasanya saya kalo nyari kaos itu bukan lagi nyari kaos-kaos resmi pertandingannya. Lebih ke misalnya kaos training mereka. Alesannya mah simpel, karna biar minim iklan. Karna jadinya rugi di kita. 

Jadi misalnya, Tuan suka nih sama kleb chelsea olivia, eh, chelsea fc, trus Tuan BELI kaos resmi pertandingan mereka (terserah ori, grade ori, atau kw), yang ada sponsornya SAMSUNG itu, trus Tuan dengan bangganya pake itu kemana-mana, Tuan ga ngerasa rugi gitu?

Kalau saya mah ogah, udah kita bayar nih misalnya harga kaos 170 rebu, terus kita jalan kemana-mana membawa-bawa logo itu SAMSUNG, untung bener mereka, udah kita jadi papan iklan secara ga langsung, mbayar pulak. Udah brand mereka jadi makin terkenal, produknya jadi makin laris, kita dapet gaya doang? Harusnya mereka dong yang mbayar kita. Hahaaa...

Minyak Goreng Sekali(an) Pakai

Lebih tepatnya uring-uringan dan ngedumel, ngata-ngatain, makanan di hotel itu harganya ketinggian, untuk rasa yang mungkin relatif ya. Sekarang, saya baru tau, entah kalau Tuan, bahwa selain menjual taste experience, art of cooking and food deserve, mereka juga menjual jaminan higienitas. Paling nggak. 

Saya punya tetangga, yang beberapa waktu lalu ada cerita ke Ibu. Mbak ini, bekerja di Hotel P*ngeran Padang. Dia cerita, bahwa para koki hotel itu, hanya masak menggunakan minyak goreng sekali pakai. Artinya jika dia ada menggoreng kentang, untuk periode berikutnya dia kokinya ganti dengan minyak yang baru. 

Sayang dong, minyaknya masih belum terlalu keruh, udah dibuang, dan tentu akan banyak menghasilkan limbah. Oh tenang saja, disitu saya kemudian tau, hotel-hotel ini punya pelanggan untuk pembeli limbah minyak goreng tersebut. 

Mbak yang saya ceritain di atas, tiap bulan memborong semua minyak  goreng bekas sekali pakai di hotel tempatnya bekerja itu. Entah la ya, apa dikasih cuma-cuma, atau dibeli, yang kalaupun iya, tentu dengan harga yang sudah akan sangat murah. 

Untuk apa kemudian minyak goreng itu, sisa kan. Iya sisa, tapi sekali pakai. Tapi kan Tuan juga tau kalau para pedagang makanan di Indonesia ini seneng banget melakukan efisiensi ekstrim. 

Deket rumah saya yang rame dan merupakan ibu kota dari Padang, banyak para penjual gorengan, nasi goreng, pecel ayam lele, dll. Ternyata untuk Mbak tadi, mereka itulah para pelanggannya. 

Para pedagang ini bisa mendapat bahan dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasar yang minyak goreng yang baru, dan skema berikutnya Tuan tau, sampai hitampun kemudian itu minyak goreng nggak akan diganti-ganti, sampai dia ingat lagi. Haha... 

Kemudian barulah datang kita, kelaperan, beli gorengan, beli nasi pecel ayam. Sip. 

Terus, pernahkah Tuan nonton film dengan aktor yang inspiratif, baik dari peran maupun filmnya itu sendiri, yang membuat Tuan memiliki motivasi lebih dalam hidup setelah menontonnya? 
Seperti saja film Patch Adam-nya Robbin William, dan tau-tau dia bunuh diri aja di kehidupan nyatanya. 

Tuan, Nyonya, hati-hati jika beridaman jadi tenar, bisa gawat kalau tak siap mental. Udah la, mending tenang-tenang, bisa pergi kemana suka, bebas bertindak apa. 

Robbin, telah menghibur dan memotivasi banyak masyarakat dunia, tetapi dia sendiri tidak merasa terhibur dan termotivasi akan hal itu. 

Marshanda, iya, belakangan kayak jadi motivator muda, penuntun gaya berhijab, tau-tau sakit jiwa. Idih.   

Siapa lagi, banyak deh kayaknya.

ISIS, Kemungkinan Konspirasi (2)

Ini siang, saya dapat dong berita seperti ini. Nggak terlalu salah saya punya asumsi. Tapi mungkin di motifnya dari tulisan saya di bawah, ada tambahannya. Alasannya karna artikel ini

Maka itu bisa jadi teori ketiga saya, ISIS ini diadakan untuk memecah-mecah Islam, sehingga sibuk bertengkar dengan sesama, tapi melupakan ada zion di luar sana yang bersiap menyambut bola.

ISIS, Kemungkinan Konspirasi

Maka dalam sekejap, sekejap saja ISIS menarik perhatian dunia. Iya, ISIS (Istri Solehah Idaman Suami) eh Islamic State of Iraq & Syiria itu.  Menyebabkan saya bertanya-tanya, apa iya ISIS itu sebagaimana ISIS itu? Hmm, maksudnya apa iya ISIS memang seperti adanya yang mereka perlihatkan dan mereka klaim. Iya, memang seperti itu, tapi apa iya dibaliknya seperti itu? Gimana ya, bingung gini saya membahasakannya.

Coba begini, ISIS, dalam waktu sekejap berita yang tersiar luas, menyatakan ingin membangun negara Islam dan menyingkirkan semua jenis kemungkaran yang disertai dengan tindakan anarkis ekstrim, yang bahkan kalau kita bandingkan dengan FPI, maka FPI pun jadi terlihat cetek dan tiada apa-apanya.

Iya, mereka berkendaraan besar dan bagus-bagus, pakaiannya hitam-hitam seragam, senjatanya tergolong maju untuk sebuah kaum pergerakan di Arab, arloji pimpinannya mahal. Apa iya mereka semata-mata akar tunggal akan aksi yang mereka lakukan?

Sebelumnya, pernahkah Tuan denger cerita tentang konspirasi untuk bomber jihad di Asia Tenggara terutama Indonesia? Bahwa mereka melakukan serangkaian aksi terorisme, iya. Tapi maksudnya bahwa ada hal lain dibelakangnya yang men-trigger mereka untuk melakukan itu?

Kita tau, setahun sebelum tren terorisme bom di Indonesia muncul, gedung WTC di Amerika ambruk dan tak ketahuan dengan pasti siapa pelakunya sampai sekarang kan. Setahun sesudahnya dan tahun-tahun berikutnya, terjadi aksi serangan bom di Indonesia yang pelaku-pelakunya dengan enteng diketahui dan ditangkap.

Tersiar kabar-kabar buruk saat itu, bahwa para teroris ini sebenarnya adalah bentukan-bentukan dari pihak polisi/amerika/pihak barat sendiri. Teroris bentukan ini lihatlah, betapa terang-terangannya bikin rusuh, betapa gampangnya untuk diketahui dan ditangkap, betapa media dengan mudah berita-beritanya diblowup media.

Sehingga apa, berita-berita itu menutupi kebodohan Amerika sendiri yang tak mampu menangkap dan membuktikan kejahatan terorisme di tempat mereka sendiri ((jika memang itu merupakan aksi terorisme dari pihak luar amerika)).

Atau juga menguatkan kesan di masyarakat, bahwa islam itu negara teroris, sehingga pun, masyarakat dunia teralihkan dari berpikiran buruk terhadap kenyataan bahwa bisa saja memang Amerika itu sendiri yang menghancurkan rakyat dan bangunan kebanggannya sendiri. 

Ga apa-apalah korban ribuan jiwa, kehilangan twin tower, tapi habis itu bisa dijadikan alasan invasi untuk menguasai Iraq, bisa menguasai ladang minyak, menekan perlawanan  afganistan yang spartan.

Bagaimana mungkin caranya bisa membuat orang mau melakukan bom bunuh diri, mau bikin orang biar ditangkapin, dihukum mati, keluarga tinggal. Bisa saja mah kalau duit banyak. Tinggal bilangin keluarga mereka akan dipenuhi segala tanggungannya. Bisa saja mah kalau punya banyak kekuatan untuk menekan. Tinggal dipaksa dan keluarganya juga bakal diancam. Bisa saja mah kalau para terorisini gampang dihasut, bayar saja guru besar mereka untuk membangkitkan semangat jihad dan kebencian kepada teroris itu. Bisa saja mah kalau ketiga kemungkinan diatas dikombinasi.

Balik lagi ke ISIS, serupa dengan hal di atas, kemunculan ISIS yang tiba-tiba barengan dengan zion Israel memberondong Gaza.

Ini, ini teori saya, perlu mungkin Tuan ketahui, ketika Tuan sedang melakukan tindakan jahat, ada dua cara untuk membuatnya menjadi ‘tidak terlalu jahat’. Pertama, lakukan suatu tindakan baik/pencitraan baik, dengan harapan paling tidak masyarakat masih menilai ada hal positif dari dirimu.

Kedua, Tuan memerlukan aksi dari pihak lain yang lebih kejam dari apa yang Tuan lakukan. Sehingga dengan begitu kekejaman yang Tuan lakukan jadi terlihat lebih ‘mendingan’ daripada yang dilakukan pihak lain.

Mungkin saja cara kedua ini yang sedang ditempuh Israel, ketika mereka sedang sibuk membantai Palestine, mereka me-launching ISIS yang lebih kejam, agar kesalahan mereka terlihat tidak seberapa, agar pembantaian mereka bisa dibenarkan karena mereka bisa mengatakan muslim itu sebenernya jahat.


Bagaimana bisa mereka bentuk ISIS? Itu bisa saja seperti saya ceritain di atas. Mudah mah, mobil-mobil mewah untuk konvoi itu cukup menceritakannya. 

Perbandingan Manusia dengan Tuhan

Dahulunya saya rasa saya pernah membahas perkara serupa. Tapi tak apa-apa kan lah saya ulangi (karena tadi nemu lagi kasusnya). Untuk kemudian berbagi opini. Saling mengingatkan.

Sering kita menemui celetukan, atau  mungkin keluhan, yang bernada seperti ini:

"Tuhan saja Maha Pemaaf, kenapa saya nggak?"
"Tuhan saja menilai baik dan menilai pahala niat baik dari seseorang, kenapa kamu nggak?"

Seringkah Tuan dengar, atau paling nggak, pernah mendapati kalimat dengan kesan-kesan serupa itu? Atau malah justru kita sendiri yang melontarkannya?

Nah, disini pendapat saya, mbok ya ambil perbandingan jangan ketinggian begitu lho... 

"Tuhan saja Maha Pemaaf, kenapa saya nggak?" -Jadi Tuan mau memaafkan orang karena Tuan merasa serupa Tuhan? 

"Tuhan saja menilai baik dan menilai pahala niat baik dari seseorang, kenapa kamu nggak?" -Justru karna bukan Tuhan itulah kan?

Memang, mungkin yang pernah ikut pelatihan ESQ tau bahwa di dalam sanubari kita itu ada ditiupkan sifat-sifat Agung Tuhan. Tapi tetap saja, membuat sebuah perumpamaan, sebuah perbandingan, dengan Tuhan, rasanya keterlaluan.

Makanya, ada Rasul yang diutus ke bumi. Rasul sebagai pembawa wahyu, pengembang ajaran Tuhan, dari sesama kita sebagai manusia. Rasul itu telah ditunjuk pula sebagai suri tauladan. Maka jadilah Rasul teladan bagi manusia. Maka jikalau ingin melakukan perbandingan sifat seseorang, atau perumpamaan sifat diri sendiri, ada Rasul yang dapat dijadikan patokan, sebagai sesama manusia. 

Janganlah dengan Tuhan. Tuhan itu tiada yang mampu membandingi. 

Malahan, dua hari masuk kerja setelah cuti bersama lebaran, sudah dua hari pula saya telat. Hitungan-hitungan waktu perjalanan dan perubahan jadwal masuk yang permanen sesuai jadwal saat Ramadhan benar-benar diberantakin sama anak-anak sekolahan. 

Sebelum Ramadhan, jadwal masuk itu pukul 8. Puasa jadi setengah 8. Dan dilanjutkan untuk setelah Ramadhan (saya akan bercerita kenapa jadi begitu dikemudian hari, Insyaallah).

Di Padang, selama Ramadhan, anak-anak sekolah ga ada yang sekolah. Diprogram oleh Pemda untuk mengikuti pesantren Ramadhan di masjid-masjid sekitar tempat tinggal masing-masing. 

Jadilah, meski berangkat jam 7 kurang 10 pun, masih bisa saya memburu ceklok jam setengah 8. Dari Tabing-Indarung. 
Tapi sekarang, dua hari ini, saya berangkat setengah 7. Sejam sebelum jam masuk. Dan tetap saja saya terlambat 10-20 menit. Mprettt...

Di tengah-tengah macet begitu, saya jadi mengangan-angan, kalaulah saya yang jadi Walikota Padang ini. Akan saya buat kebijakan, semua orang tua harus menyekolahkan anak-anaknya melalui program homeschooling. Atau, kalaupun sekolah, saya buat kebijakan jam masuknya jam setengah 9. Kita yang berangkat kerja senang karna jalanan lapang, anak-anak senang karna bisa elek-elekan sampai siang. Win-win solution kan?

Ataupun, saya programkan pesantren di Masjid itu tiap bulan. Tapi kan, udah lewat bulan Ramadhan? Itu kan pertanyaan kalian sebagai rakyat? Ya gampang, saya buat sesuai bulannya, nanti akan ada pesantren Syawal, pesantren Rajab, pesantren Zulkaedah, dll. Materinya bisa disesuaikan kan? Mall-mall aja bisa buat program diskon apapun momennya kok.

Atau juga, saya buat program kombinasi. Bahwa di Padang, program pendidikan tidak dilakukan di sekolah-sekolah, tapi di masjid-masjid sekitar tempat tinggal siswa. Pagi belajar sains dan sosial, siang belajar ngaji. Ilmu dunia akhirat balance. 

Meski saya jenius seperti dipikiran kalian mengingat ide-ide dan terobosan saya di atas, untuk sekarang biarlah saya bersabar terlebih dahulu. Mematangkan pengalaman serta menjadi tua setiap harinya di jalan.  

Breakfasting on the Road

Nah, sekarang terbayang kan? Misalnya, dalam satu bulan Ramadhan, ada beberapa jadwal kita berbuka diluar bersama teman-teman ini, rekan-rekan itu, di resto ini, di rumah makan itu. Dan berulang-ulang tiap tahunnya di saat Ramadhan.

Itulah tadi dia yang kemudian kita jadi ada sedikit suntuk, tempat makannya ramai, sesak, suara-suara berisik dari masing-masing meja, menu-menu tak sesuai pesanan atau terlambat, karena pegawainya telah hang punya kerja melayani ratusan tamu pada saat bersamaan, tempat solat sempit dan jorok. Ih.

Maka secara tak sengaja saya menemukan metoda asik agar terhindar dari situasi menjemukan seperti itu dan tetap bisa menikmati suasana berbuka yang nyaman. Voila, inilah breakfasting on the road.

Metoda ini secara tak sengaja saya temukan waktu ikut acara buka bersama kemarin. Seperti biasa selain saya yang ogah-ogahan ikut ke acara riuh-riuhan seperti itu, sayanya juga telat keluar kantor. Nyampe di perjalanan di Simpang Haru, bedug magrib udah bunyi, ya udah saya mampir beli teh kemasan dan camilan.

Sambil nyetir sambil ngemil ke lokasi gitu saya mendapati suasana yang tentram, jumlah kendaraan tidak seberapa di jalanan karena orang-orang sudah menepi untuk berbuka.,Pasang music sesuai suasana. Kita menguasai jalan, Tuan. Cahaya matahari yang mulai redup itu adalah sesuatu yang tidak kita dapati juga kalau berbuka di ruangan kan? 

 Jalan lapang, suasana santai, kapan lagi akan kita dapat di hari-hari biasa pada jam segitu?
Karena berbuka di daerah yang memang kawasan ramai dan juga melewati daerah-daerah serupa, saya bisa bebas melihat ke tempat-tempat makan berbuka bersama itu, betapa orang-orangnya rame bener, sesak-sesak, kasian.

Mampir magrib dulu di mesjid, yang lebih lapang, lebih terjamin bersih, tidak merasa diburu-buru yang akan solat berikutnya.

Barulah kemudian menuju lokasi, orang-orang sudah pada makan, ada juga yang mejanya sudah diberesi pelayan. Ada yang kemudian langsung pergi. Jadi mulai lapanglah tempat makan untuk berbuka itu. Bebaslah kita memesan ke pelayan apa suka tanpa berebutan pesan dengan pengunjung lain, maka tenang jugalah kita akan makan.

Bagi Tuan Nyonya yang ingin coba, sedikit saran saya, pilihlah minuman yang ready to drink dan makanan yang easy to eat. Sisanya, segala kesenangan berbuka dengan suasana seperti itu, Tuan sendirilah yang menjadi Tuannya.



Dasawarsa

Sepuluh tahun lalu, tahun 2004. Tahun pertama saya di SMA, tahun awal juga saya belajar nyetir. Tiap ada kesempatan, selalu saya meminta ayah mendampingi pergi belajar di jalan. Iya, menemani duduk begitu saja disamping, waktu itu kalau belajar sendiri saja rasa tak tenang. Meskipun nantinya selama perjalanan tidak akan ada percakapan. Kami masing-masing senang dalam diam.

Bahkan pernah beberapa kali kami pulang ke kampung Batusangkar cuma berdua, kami hanya bercakap ketika akan mampir solat, mampir makan, mampir isi bensin,  atau ayah ingetin saya jangan ngebut, gitu aja. Tapi kami tenang, tapi kami senang. Entah untuk Tuan Nyonya yang banyak cakap, tentu akan stress  jika ikut jalan bersama kami. Tak seru. Menurut kalian.

Setelah satu dasawarsa kemudian yang ada adalah kebalikannya. Tiap saya pulang kerja ayah ada berharap kepada saya untuk pergi keluar lagi supaya bisa beliau ikut. Jalan-jalan begitu saja, kemana saya bawa, sebagaimana 10 tahun lalu. Karena itulah hanya penghiburan aktifitasnya semenjak terkena stroke di 2011.

Ada idiom bilang bahwa orang tua, semakin bertambah umurnya, tingkahlakunya juga akan kembali seperti anak-anak sediakala. Saya sudah mendapat bukti.

Waktu sebelum saya sekolah, tiap pagi jam 7/8, saya dan kakak akan selalu menangis, karena ayah dan ibu keduanya harus pergi mengajar di kampus masing-masing. Kami dititipkan tetangga, sykurnya siang ada kakak sepupu yang jagain.

Malamnya, kami nangis lagi karna orang tua belum pulang. Kakak sepupu bingung nenangin. Ayah harus jemput ibu dulu yang jadwal ngajarnya selesai bisa sampai malam. Kakak nangis, sayanya ngambek dan marah ke ibu karena lama pulang. Tapi kadang ayah ajak kami juga jemput ibu. Sampai-sampai rumah bisa jam 8,9,10,11. Terasa kemudian bahwa itu adalah melelahkan.

Sejak saya kuliah, ibu sudah suka panik saya lama pulang, terlebih-lebih lagi sekarang. Ujung-ujungnya sampai rumah kena marah. Sama bagaimana saya dulu marah ke ibu karena lama pulang. Bedanya beliau karena kerja, saya entah karna apa.

Sejak terkena stroke juga ayah yang tidak seperti ibu, juga jadi seperti itu, Ketika masih masa training yang menyebabkan saya sering pulang dini hari, kata kakak ayah tidak ada sedikitpun bisa tidur sampai kemudian suara mobil saya terdengar di depan rumah.

Tapi ya sekarang, satu dasawarsa, tak ada lagi saya bisa ajak ayah jalan kemana suka. Ini ramadhan, tinggal ibu dan kakak saja yang berbuka karna seringnya saya tidak dapat berbuka di rumah karena telat atau acara berbuka di tempat lain.

Iya, perubahan-perubahan seperti itu memang ada, perubahan yang sudah digariskan kan? Rasanya kita cukup mengikuti garis itu yang diciptakan-Nya, sehingga bagaimanapun ada perubahan, kitanya tetap bisa tenang, tetap bisa senang, insyaAllah.  

Kisah Si Kerudung Merah dan Serigala

Pada suatu hari, seorang gadis kecil, yang biasa dipanggil  sebagai Kerudung Merah oleh orang tuanya, (musabab senang betul gadis itu menggunakan kerudung merah jika bepergian keluar rumah) berencana pergi mengunjungi neneknya yang tinggal di pedesaan yang masih bisa dibilang berupa hutan.

Ibu si gadis menitipi keranjang yang berisi oleh-oleh untuk si nenek sambil berpesan, "Segeralah menuju ke rumah nenekmu, jangan mampir-mampir dan bermain di perjalanan, dan jangnlah pula engkau berbicara ke sembarang orang."

"Baik Bu..." Gadis Kerudung Merah menjawab patuh.

Berangkatlah ia dengan hati riang, dengan perasaan gembira. Hingga diperjalanan, ketika baru saja memasuki hutan, gadis itu mendapati sebuah tanah lapang yang penuh dengan bunga-bunga indah yang baru mekar dan dipenuhi dengan berbagai kupu-kupu disekitarnya. Terpesona dan mampirlah ia. Biasa, women. 
Lupalah Kerudung Merah dengan janjinya. Tanpa disadari ada seekor serigala telah mengintipinya. Serigala tersebut kemudian menghapiri dan bertanya tentang perihal si gadis. Dijawabnyalah dengan terang oleh si gadis perihal dirinya dan tujuannya.

Serigala, yang awalnya berniat menerkam saja gadis itu, mengganti rencana dengan berkunjung ke rumah neneknya. Bisa dapat dua. Si Kerudung Merah, yang sadar telah lalai, buru-buru mengemasi barang dan melanjutkan perjalanan.

Tapi serigala memiliki langkah yang lebih cepat. Sesampai di rumah nenek, langsung dia menerkam dan menelan nenek renta tersebut. Sesegera mungkin juga ia berganti pakaian dan menyamar menjadi sebagai nenek. 

Tak lama berselang, Gadis Kerudung merah sampailah ke rumah neneknya. Ketika masuk, didapatinya neneknya tidak seperti biasa. 

"Kemarilah gadis kecilku" ujar serigala dengan suara parau.
"Nenek Suaramu terdengar sangat aneh Apakah ada masalah?." jawab si gadis kecil keheranan.
"Oh, aku hanya sedikir kedingininan, manisku " cicit serigala menyembunyikan suaranya.
"Tapi Nenek! telingamu nampak besar sekali " kata kerudung merah saat ia beringsut mendekat ke tempat tidur.
"Ini agar aku bisa semakin baik mendengar kamu, Sayang,"
"Tapi Nenek! matamu juga sangat besar sekali!" 
"Ini agar semakin baik untuk melihat kamu, Sayang," 
"Tapi Nenek! Gigimu juga sangat besar sekali" kata gadis itu mulai merasa ketakutan
"Ini agar semakin baik untuk memakanmu, Sayang," raung serigala dan ia pun melompat keluar dari tempat tidur dan menerkam gadis kecil itu.

Gadis itu berteriak sekencang mungkin, dan terdengarlah oleh seorang penebang kayu disekitar itu dan secepat mungkin mendatangi sumber suara. Serigala yang terlihat tengah mengejar Kerudung Merah akhirnya dibunuhlah dan ajaibnya, neneknya masih hidup dan bisa dikeluarkan dari bangkai serigala tersebut. 

Menyesallah Kerudung Merah akibat kelalaiannya. "Oh andaikan tadi aku hanya mendengarkan bagaimana nasihat ibuku untuk tidak bermain dalam perjalanan..."  

Si nenek mendengar dan menanggapi. "Apa? Jadi ibumu sudah mengingatkanmu tapi kau tidak mengindahkannya?"

"Iya nek..."

Si nenek kemudian murkalah dia. "Jadi gara-gara kamu aku harus diterkam oleh serigala itu???" 

Belum sempat Gadis Kerudung merah itu meminta maaf, si nenek telah merebut kapak di tangan penebang kayu yang menyelamatkannya tadi dan menghantamkannya ke kepala si Kerudung Merah. 

Kepala Kerudung Merah pecah seketika dan terkaparlah ia. Darah bercipratan kemana-mana. Meski begitu Kerudung Merah masih sadar. Dia masih belum meminta maaf pada neneknya.

Tapi meski begitu, melihat Kerudung merah masih sadar, sekali lagi diayunkannya sekali lagi kapak itu ke perut gadis yang terkapar itu hingga perutnya terbelah. "Bisa-bisanya gara-gara kelalaian kau saya jadi korban terkaman binatang buas! Rasakan itu cucu durhaka..."  

Penebang kayu hanya bisa mlongo menyaksikan kejadian itu. Kisah cucu yang tidak mematuhi orang tua dan nenek tua yang tak dapat menahan amarah.

Original story taken from HERE