Subprime Mortgage di Amerika

Awal kehancuran bubble ekonomi di Amerika 2006 lalu, diawali adanya pinjaman perumahan yang sudah terlalu besar nilainya dan ketidaksanggupan debitur untuk mengangsur pinjaman. Iya, bagaimana tidak, sekarang saja, untuk mendapatkan rumah di Amerika, anggaplah di NYC, ibu kota dunia itu, kita perlu memperoleh penghasilan setahun 87,536 US Dolar

Coba, sekarang Rupiah itu 13,000 per dolarnya, artinya perlu penghasilan sekira Rp. 1,137,968,000,-. Atau sebulannya Rp, 94,830,666,-. Meh, kudu piye. Tapi saya rasa kita tidak perlu pusing, santai aja sih, karena itu kan di Amerika. Urusan mereka lah.  

Tapi berapa sih kira-kira harga rumah di sana? Kalau ikut aturan standar manajemen keuangan, hutang itu mesti tidak lebih dari 30% pendapatan,  jadi kita mesti ada tagihan cicilan utang per tahun yaitu USS 26,261 atau Rp. 341,390,400,- (mak, ini mah bisa beli satu rumah di indonesia), dan anggaplah cicilan rumah mereka itu 10 tahun maka cicilan rumah mereka akan lunas dengan dana Rp. 3,413,904,000,- (di luar bunga). Eh tapi kan itu cicilan aja, kalai coba kita samakan dengan standar di Indonesia, cicilan rumah itu 70%, dimana 30% nya adalah pembayaran DP. Maka harga tadi masih 70%, perlu sekitar 30% dari harga rumah sebenarnya, jadi nambah di DP sebelumnya yaitu Rp. 1.463.101.714,29. 

Maka total harga rumah di NYC adalah Rp. 4.877.005.714,29.  Keterangan yang nggak berguna tapi bisa menjadi dering bel bagi kita.

Tidak ada komentar: