Strategi Kampanye Politik Indonesia

Bapak Ibu calon anggota dewan ataupun calon pimpinan daerah di Indonesia, ataupun calon presiden dan wakilnya yang dirahmati Allah. Saya sih nggak kenal dengan Bapak Ibu sekalian, bahkan hanya sekedar wajah meskipun ada banyak foto yang telah Bapak Ibu pampang di ruang publik. Tapi terlalu banyak sehingga sudah tidak diperhatikan lagi. Sampah visual. Begitu istilah dari para desainer komunikasi visual.

Tapi saya cukup tau kalau sebelum memampang foto dengan latar belakang partai, Bapak Ibu sudah terlebih dahulu mampang foto di iklan-iklan layananan publik melalui instansi pemerintahan yang Bapak Ibu pimpin. Paling pesannya cuma pesan klise seperti "jadilah warga kota yang bermartabat, patuhilah hukum" seperti itu, itupun porsinya fontnya cuma 20% dari besar baliho, 20% lagi untuk logo instansi, 60% sisanya habis dengan foto Bapak Ibu. Itu maksudnya apa? Nggak ada kaitannya. Najis ya.

Eh tapi Bapak Ibu tau la kan kalau ada tempat-tempat publik yang tidak boleh dipasangi dengan poster-poster dan baliho-baliho? Kalau pertanyannya dilanjutkan dengan 'kenapa Bapak Ibu memasang poster kampanye di tempat-tempat yang tidak diperbolehkan?' pastilaaaa... jawabnya nggak akan jauh dari 'kami selalu mencoba mantaati aturan dan tidak ada kesengajaan memasang poster di tempat-tempat tersebut, mungkin itu dilakukan oleh anggota tim sukses atau simpatisan kami.' Gitu kan ya standar jawabannya? 

Yeeehhh,. kalau itu mah saya juga tau Bapak, saya tau Ibu. Kayak Bapak Ibu yang mau aja megang palu dan paku, kayak yang bakalan rela aja manjat-manjat tiang listrik bawa-bawa tali. Justru dari jawaban Bapak Ibu itu keliatan ketidak-adanya-kapabilitas Bapak Ibu menjadi wakil kami. 

Ngurus tim sukses dan simpatisan yang belum seberapa aja untuk mentaati hukum kampanye aja gagal, bagaimana mungkin Bapak Ibu bisa mengurusi ratusan ribu penduduk konstituen? 


Tidak ada komentar: