Demi Pancasil Jaya

Hingga sebelum era Orde Baru tumbang, gw paling males di tiap tahunnya, malam tanggal 30 September, semua stasiun tivi, tanpa kecuali, muter film membosankan tentang G30S/PKI. En durasi filmnya itu MasyaAllah,. amit-amit panjangnya. Gw anteng duduk depan tipi dari jam 9 malam, berharap filmnya segera habis. Karna capek nungguin gw ketiduran, jam 1 kebangun eh filmnya masi itu aja. Kecewa. Kampret.

Untungnya sejak reformasi, kita udah nggak lagi dicekoki dengan film yang menceritain apa yang disebut oleh ‘Eyang Pembangunan’ kita dulu itu sebagai pemberontakan ekstrem kiri (ekstrem kanannya Islam radikal). Eyang sama-sama alergi terhadap dua ekstrem tersebut, en menurutnya, gerakan-gerakan ekstrem daripada yang berniat mengubah daripada ideologi Pancasila seperti itu wajib DIMUSNAH-KEN. Hehe.

Andrea Hirata melalui Edensor dengan halus menyisipkan sedikit kisah getir seorang korban yang dianggap oleh pemerintah sebagai pesakitan dalam mosaik ‘Janda-Janda Kecoa’. Jika Andrea hanya menjadikan isu itu sebagai sisipan sebuah chapter, Ahmad Tohari, puluhan tahun lalu, dalam triloginya ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ malah menjadikan isu itu menjadi pokok cerita yang mengubah total kisah percintaan Srintil dan Rasus dengan ending yang antiklimaks. Akibatnya trilogi tersebut disensor pemerintah lebih dari 22 tahun lamanya. Nasib sama juga terjadi dengan novel Ahmad Tohari lainnya kek ‘Kubah’.

Pengalaman terdekat gw sendiri dengan hal bersinggungan dengan komunis terjadi pada akhir 2006 lalu. Gw inget pas lagi lewat di depan kedai aksesori di bilangan Blok M ketika seorang penjualnya nawarin dagangannya ke gw, “Ayo mampir dek, mau nyari apa? Ada gelang, cincin, kalung,.macem-macem..”
“Nggak bang, gw ga make asesoris.”
“Diliat dulu aja dek, modelnya ada banyak nih, baru-baru semua.”
Akhirnya gw mampir juga, tapi nggak bakalan beli karna emang gw ga suka make asesoris. “Bang, model-model mata kalungnya ini semua?” Tanya gw. Perasaan modelnya biasa-biasa aja, ga ada istimewanya. Atau mungkin emang gw yang ga tau mode keknya.

“Iya,. Tapi itu model baru kok,” setengah berbisik abang jual kalungnya lanjutin, “Sebenernya ada satu lagi yang nggak di pajang, modelnya palu arit, kaosnya juga ada. Mau kagak?”
“Astajim.. kaga de bang,.. udah gw liat-liat aja”.

Sepanjang perjalanan setelahnya, gw masi shock en kepikiran, sepertinya bibit-bibit kemunculan komunisme telah tumbuh lagi.

Kalo ngeliat pengharusan pemutaran film kekejian PKI, pendiktean isi buku-buku sejarah, sensorisasi karya-karya seni waktu itu, dan sebuah marketing asesoris yang hening kek yg gw alami setelah keruntuhannya sejak 45 tahun lalu, kita akan melihat bahwa seperti ada upaya pembelokan persepsi dan pengingkaran terhadap fakta historis. Terkesan ada sesuatu yang ditutup-tutupi.

Memang Soekarno kebablasan dengan aliansi Nasakom-nya yang membuat Bung Hatta mundur sebagai wapres, patriotisme Tan Malaka (yang sering disebut Che Guavara-nya Indonesia) yang mengusung Madilog pun memang kurang sesuai dengan Indonesia yg berpondasi Pancasila. Tapi peristiwa pembunuhan tujuh jendral, pembumihangusan desa-desa beserta penduduknya, pengucilan dan penyiksaan mental tanpa pandang bulu, serta keraguan daripada sebagian masyarakat terhadap keaslian daripada Supersemar seharusnya segera DILURUS-KEN.

Dengan begitu, generasi jaman sekarang ga bingung lagi dengan kenyataan sejarah bangsanya sendiri. Karena jika sejarah bisa disampaikan dengan sebenar-benarnya, tentu generasi sekarang bisa menyadari sendiri bahwa PKI itu telah serong kepada ajaran asing, bukan kepada nilai-nilai luhur Indonesia. Sehingga sejarah militan berdarah tersebut bisa dimengerti. Sehingga Piagam Jakarta yang melahirkan Pancasila tak menjadi sia-sia.

Tidak ada komentar: